Pertama-tama gw ucapkan Selamat Tahun Baru Imlek. Semoga tahun kuda kayu dapat memberikan keberuntungan yang lebih baik bagi kita semua. :)
Meski demikian hari pertama di tahun kuda kayu ini sedikit sial buat gw. Pertama, gw menjatuhkan cangkir kesayangan gw sampai retak ngga bisa dipake lagi, dan gw melakukan ini setelah membaca tweet salah seorang penulis buku yang lagi kasih info soal kepercayaan Imlek bahwa merusak barang di 15 hari pertama tahun baru Imlek adalah pamali banget. ==; Tidak lama setelah itu gw baru menyadari kalau handuk gw hilang 1, sementara handuk lainnya sedang dicuci. Dan gw pun terpaksa mandi pake kain pel paling bersih yg gw punya...
Mood gw udah paling rusak sama masalah handuk yang hilang di hari ini, bikin gw teringat gimana Imlek tahun lalu tau-tau Bokap ngabarin kalau gw harus menanggung hutang yang lumayan besar gara-gara masalah kios pasar dan harus ikut bantu pembayaran cicilannya. Untungnya di pertengahan tahun masalah hutang kios pasar bisa terselesaikan dan sejauh ini gw masih survive hidup dengan baik. So gw harap urusan cangkir pecah dan handuk hilang ini cuma cara Tuhan menghabiskan kuota keapesan gw dari awal biar ke depannya semua berjalan baik. \(T_T)/
Friday, January 31, 2014
Wednesday, January 1, 2014
HAPPY NEW YEAR 2014~
Tahun 2013 telah berlalu dan 2014 pun datang. Thanks to my greed gw menghabiskan malam tahun baru di kosan mengerjakan ilustrasi buku anak dan masih harus menghadapi tumpukan projek lainnya 2-3 bulan ke depan. Gw sudah muak dan kali ini gw harus benar-benar serius untuk ngga terima lagi project buku anak, unless they pay me with dollar currecy.
Kesannya sombong ye~ Bukannya kenapa-kenapa sih. Tapi buku anak lokal itu project yang terlalu nguras tenaga dengan hasil yang ngga banyak-banyak amat. Dan terutama, project-project buku anak amat sangat menguras waktu gw. Keinginan buat menghasilkan karya gw sendiri cuma jadi tumpukan ngga kesampean dalam 2 tahun terakhir dan gw udah ngga mao begini lagi.
So resolusi 2014 gw adalah gw pengen lebih banyak menyenangkan diri sendiri dengan lebih banyak berkarya buat diri gw sendiri. Gw pengen akhirnya bener-bener menghasilkan sesuatu yang jadi impian gw dari kecil.
Selain itu gw pengen bisa nabung lebih banyak. Soalnya kemungkinan tahun ini penghasilan gw berkurang karena bakal pilih-pilih kerjaan, sementara masih banyak hal-hal lain yang juga menjadi mimpi gw juga tapi butuh banget duid untuk mewujudkannya. xd
HAPPY NEW YEAR 2014~
Semoga tahun yang baru memberikan berkah yang lebih baik bagi kita semua dan dapat kita jalani dengan sebaik-baiknya hingga tahun berikutnya. ^^
Kesannya sombong ye~ Bukannya kenapa-kenapa sih. Tapi buku anak lokal itu project yang terlalu nguras tenaga dengan hasil yang ngga banyak-banyak amat. Dan terutama, project-project buku anak amat sangat menguras waktu gw. Keinginan buat menghasilkan karya gw sendiri cuma jadi tumpukan ngga kesampean dalam 2 tahun terakhir dan gw udah ngga mao begini lagi.
So resolusi 2014 gw adalah gw pengen lebih banyak menyenangkan diri sendiri dengan lebih banyak berkarya buat diri gw sendiri. Gw pengen akhirnya bener-bener menghasilkan sesuatu yang jadi impian gw dari kecil.
Selain itu gw pengen bisa nabung lebih banyak. Soalnya kemungkinan tahun ini penghasilan gw berkurang karena bakal pilih-pilih kerjaan, sementara masih banyak hal-hal lain yang juga menjadi mimpi gw juga tapi butuh banget duid untuk mewujudkannya. xd
HAPPY NEW YEAR 2014~
Semoga tahun yang baru memberikan berkah yang lebih baik bagi kita semua dan dapat kita jalani dengan sebaik-baiknya hingga tahun berikutnya. ^^
Monday, November 11, 2013
Pyongyang Restaurant
Gw relatif sering melewati kawasan Gandaria dan sekilas-sekilas melihat Restoran Pyongyang. Ada beberapa hal yang terlintas di benak. Pertama, selain orang Korea asli, siapa yang makan makanan Korea? Harap dimaklumi, waktu dulu jangankan restoran Korea, restoran Jepang saja belum banyak peminatnya. Orang-orang masih pada takut makan ikan mentah. =d Kedua, Siapa yang berani makan di restoran Korea Utara? Pertanyaan ini baru terpikir setelah gw mulai ngeh dengan beda Korea Utara dan Korea Selatan yang sangat kontras.Ketiga, restoran ini ngga pernah direnovasi atau diperbaharui penampilannya supaya lebih menarik. Tapi setiap gw lewat selalu ada saja 2-3 mobil yang parkir, tanda kalau tempat ini tetap buka. Atau minimal yang punya restoran selalu datang kesitu.
Setelah gw pindah ngekos di daerah Binus, gw melupakan keberadaannya. Sampai kemudian muncul artikel dari Jakarta Globe tentang tempat ini dan membuat gw agak terkejut karena ini restoran ternyata masih hidup.
http://www.thejakartaglobe.com/archive/north-koreas-hidden-menu/
Yang lebih mengejutkan, menurut artikel-artikel review yang gw baca, pelayan-pelayan di tempat ini semuanya asli dari Korea Utara. Lalu setiap weekend sore, selalu ada pertunjukan nyanyian dari para pelayan yang semuanya menggunakan baju hanbok. Spontan gw pun makin penasaran. Bersama beberapa teman, akhirnya Sabtu kemarin kita pun mencicipi makanan di restoran Pyongyang.
Gw datang jam 6 sore dan menjadi tamu pertama pada sore itu. Waktu gw datang, suasananya sungguh sunyi. Para pelayannya tidak terlalu fasih berbahasa Indonesia sehingga komunikasinya juga rada susah. Tak lama setelah kita duduk, dituangkan teh, dan dikasih menu, mereka menyetel musik jadul Korea dan Mandarin biar ngga sepi banget.
Kesan gw tentang isi restorannya, sungguh nostalgia 80-90an. Kayak restoran-restoran Chinese Food lama jaman gw kecil, atau restoran yang berada pada jaman keemasannya waktu Bokap Nyokap gw masih muda. Para pelayannya benar-benar pake hanbok semua (kecuali 1 ibu yang sepertinya adalah empunya restoran). Gerak-gerik mereka mengigatkan gw sama dayang-dayang istana di film Dae Jang Geum / Jewel in the Palace. Selain gw, datang juga beberapa tamu lain. Diantaranya ada yang sepertinya orang Korea, ada juga yang orang Jepang.
Sekitar setengah jam kemudian, teman-teman gw yang lain pun sampai dan kita memesan beberapa menu. Diantaranya, babi panggang kecap, sup pangsit, dan beberapa mie dingin. Terakhir teman gw pesan semacam babi dan cumi yang dimasak dengan saus merah yang biasanya digunakan untuk masakan Topokki. Well, itu penjelasan teman gw. Gw sendiri nga pernah makan Topokki. Sebagaimana restoran khas Korea, kita juga dikasih beberapa appetizer yang bisa dibilang gratis serta teh dingin. Gw kurang tahu apa nama Korea untuk teh nya, gw sendiri menyebutnya sebagai Mugicha karena rasa dan baunya mirip juwawut.
Yang jadi bintang di tempat ini gw rasa adalah masakan babi nya. Semuanya enak, empuk, dan dibumbui dengan baik. Gw ngga makan cumi-cuminya, tapi sepertinya juga enak kalau melihat bagaimana teman-teman gw menghabiskannya. Sop pangsitnya juga cukup oke. Di dalam pangsit ada semacam kimchi sehingga sedikit pedas. Gw suka mie dinginnya. Tekstur mie nya menarik dan kuahnya dingin segar. Tapi buat sebagian orang mungkin rasanya agak hambar. Mie nya juga mudah sekali bikin kenyang dan buat sebagian orang mungkin kurang cocok dengan tekstur maupun kuah dinginnya.
Perlu diketahui gw ngga bisa makan pedas. Ayam KFC crispy aja bisa bikin gw stress kepedesan. Jadi apa yang gw bilang pedes mungkin ngga berasa apa-apa buat yang biasa makan cabe. Karena keterbatasan lidah gw pula ngga semua appetizer sanggup gw makan. Yang gw doyan antara lain wakame yang kayaknya sedikit dimasak pake minyak, singkong koreng tepung, dan semacam cah sayuran yang sekilas mirip pocai. Temen gw doyan sup merah pedas manis yg katanya kayak manisan Bogor. Seorang lagi doyan dengan kentang pedas dan kimchi nya. Yah tapi pokoknya semua makanan habis, jadi kita cukup menikmati hidangan yang ada. ^^
Setelah sekian lama makan, gw mulai berpikir sore itu tidak ada acara musik yang disebut di artikel review. Tapi ternyata gw salah. Sekitar jam 8-9 malam, para pelayan mempersiapkan diri di panggung yang tersedia dan mulai menyanyi diiringi video karaoke. Ada yang main drum dan keyboard juga. Lagu pertama adalah lagu kebanggaan mereka untuk para turis dan sering gw dengar di video-video tentang Korea Utara, Pangapsumnida.~ Lagunya lumayan brainwashing di otak gw.
Setelah lagu tersebut selesai, mereka lanjut menyanyikan beberapa lagu Korea dan Mandarin. Kadang ada yang menari dengan kipas. Begitu sampai sekitar hampir jam 10 mereka selesai menyanyikan semua lagu dan mengucapkan terima kasih. Kami pun makan semangka pencuci mulut, membayar makanan, dan kembali pulang, menyelesaikan petualangan kecil kami di restoran yang ngga biasa ini.
Gw datang ke tempat ini bersama ade gw dengan motor. Sewaktu pulang, mulanya gw agak heran kenapa tukang parkirnya tidak terlalu atentif sebagaimana tukang parkir pada umumnya. Tapi karena kita cukup lama di restoran tersebut, gw tetap kasih Rp2000,- untuk biaya parkir. Tukang parkirnya agak mengejutkan gw karena waktu terima uangnya dia membungkuk kasih hormat dan waktu gw perhatikan, ternyata dia juga orang Korea. Pantas dia rada diam-diam saja waktu kita parkir. Gw ngga nyangka tadinya dia orang Korea karena warna kulitnya agak legam. Maaf bukannya bermaksud rasis, tapi yah ekspektasi gw terhadap yg namanya orang Korea kan... Ah well, maap klo ternyata saya rada rasis. : |
Kesan-kesan gw makan di Pyongyang Restaurant, gw cukup merasakan bagaimana para pelayannya berusaha memberikan service terbaik mereka. Melalui pertunjukan sore mereka juga mencoba ngasih lihat sedikit budaya Korea Utara. Kekurangannya paling karena mereka ngga terlalu bisa bahasa Indonesia dan gw sendiri ngga bisa bahasa Korea aja.
Gambar-gambar di menu sangat membantu kita waktu pesan makanan, jadi tinggal tunjuk aja mau yang mana. Restoran ini sangat recomendable buat mereka yang ingin menikmati nostalgia suasana rumah makan tahun 80-90an, dan juga untuk yang penasaran pengen lihat cewe-cewe Korea Utara dengan hanboknya. Gw sendiri masih penasaran dengan menu bebek dan sapi bulgogi nya. Klo ada yang ngajakin lagi sih gw oke-oke aja untuk kembali makan disana.~ :)
Pyong yang Restaurant
Jl. Gandaria 1 No 58, Kebayoran Baru Jakarta Selatan
Phone : 021 - 72800889
Setelah gw pindah ngekos di daerah Binus, gw melupakan keberadaannya. Sampai kemudian muncul artikel dari Jakarta Globe tentang tempat ini dan membuat gw agak terkejut karena ini restoran ternyata masih hidup.
http://www.thejakartaglobe.com/archive/north-koreas-hidden-menu/
Yang lebih mengejutkan, menurut artikel-artikel review yang gw baca, pelayan-pelayan di tempat ini semuanya asli dari Korea Utara. Lalu setiap weekend sore, selalu ada pertunjukan nyanyian dari para pelayan yang semuanya menggunakan baju hanbok. Spontan gw pun makin penasaran. Bersama beberapa teman, akhirnya Sabtu kemarin kita pun mencicipi makanan di restoran Pyongyang.
Gw datang jam 6 sore dan menjadi tamu pertama pada sore itu. Waktu gw datang, suasananya sungguh sunyi. Para pelayannya tidak terlalu fasih berbahasa Indonesia sehingga komunikasinya juga rada susah. Tak lama setelah kita duduk, dituangkan teh, dan dikasih menu, mereka menyetel musik jadul Korea dan Mandarin biar ngga sepi banget.
Kesan gw tentang isi restorannya, sungguh nostalgia 80-90an. Kayak restoran-restoran Chinese Food lama jaman gw kecil, atau restoran yang berada pada jaman keemasannya waktu Bokap Nyokap gw masih muda. Para pelayannya benar-benar pake hanbok semua (kecuali 1 ibu yang sepertinya adalah empunya restoran). Gerak-gerik mereka mengigatkan gw sama dayang-dayang istana di film Dae Jang Geum / Jewel in the Palace. Selain gw, datang juga beberapa tamu lain. Diantaranya ada yang sepertinya orang Korea, ada juga yang orang Jepang.
Sekitar setengah jam kemudian, teman-teman gw yang lain pun sampai dan kita memesan beberapa menu. Diantaranya, babi panggang kecap, sup pangsit, dan beberapa mie dingin. Terakhir teman gw pesan semacam babi dan cumi yang dimasak dengan saus merah yang biasanya digunakan untuk masakan Topokki. Well, itu penjelasan teman gw. Gw sendiri nga pernah makan Topokki. Sebagaimana restoran khas Korea, kita juga dikasih beberapa appetizer yang bisa dibilang gratis serta teh dingin. Gw kurang tahu apa nama Korea untuk teh nya, gw sendiri menyebutnya sebagai Mugicha karena rasa dan baunya mirip juwawut.
Yang jadi bintang di tempat ini gw rasa adalah masakan babi nya. Semuanya enak, empuk, dan dibumbui dengan baik. Gw ngga makan cumi-cuminya, tapi sepertinya juga enak kalau melihat bagaimana teman-teman gw menghabiskannya. Sop pangsitnya juga cukup oke. Di dalam pangsit ada semacam kimchi sehingga sedikit pedas. Gw suka mie dinginnya. Tekstur mie nya menarik dan kuahnya dingin segar. Tapi buat sebagian orang mungkin rasanya agak hambar. Mie nya juga mudah sekali bikin kenyang dan buat sebagian orang mungkin kurang cocok dengan tekstur maupun kuah dinginnya.
Perlu diketahui gw ngga bisa makan pedas. Ayam KFC crispy aja bisa bikin gw stress kepedesan. Jadi apa yang gw bilang pedes mungkin ngga berasa apa-apa buat yang biasa makan cabe. Karena keterbatasan lidah gw pula ngga semua appetizer sanggup gw makan. Yang gw doyan antara lain wakame yang kayaknya sedikit dimasak pake minyak, singkong koreng tepung, dan semacam cah sayuran yang sekilas mirip pocai. Temen gw doyan sup merah pedas manis yg katanya kayak manisan Bogor. Seorang lagi doyan dengan kentang pedas dan kimchi nya. Yah tapi pokoknya semua makanan habis, jadi kita cukup menikmati hidangan yang ada. ^^
Setelah sekian lama makan, gw mulai berpikir sore itu tidak ada acara musik yang disebut di artikel review. Tapi ternyata gw salah. Sekitar jam 8-9 malam, para pelayan mempersiapkan diri di panggung yang tersedia dan mulai menyanyi diiringi video karaoke. Ada yang main drum dan keyboard juga. Lagu pertama adalah lagu kebanggaan mereka untuk para turis dan sering gw dengar di video-video tentang Korea Utara, Pangapsumnida.~ Lagunya lumayan brainwashing di otak gw.
Setelah lagu tersebut selesai, mereka lanjut menyanyikan beberapa lagu Korea dan Mandarin. Kadang ada yang menari dengan kipas. Begitu sampai sekitar hampir jam 10 mereka selesai menyanyikan semua lagu dan mengucapkan terima kasih. Kami pun makan semangka pencuci mulut, membayar makanan, dan kembali pulang, menyelesaikan petualangan kecil kami di restoran yang ngga biasa ini.
Gw datang ke tempat ini bersama ade gw dengan motor. Sewaktu pulang, mulanya gw agak heran kenapa tukang parkirnya tidak terlalu atentif sebagaimana tukang parkir pada umumnya. Tapi karena kita cukup lama di restoran tersebut, gw tetap kasih Rp2000,- untuk biaya parkir. Tukang parkirnya agak mengejutkan gw karena waktu terima uangnya dia membungkuk kasih hormat dan waktu gw perhatikan, ternyata dia juga orang Korea. Pantas dia rada diam-diam saja waktu kita parkir. Gw ngga nyangka tadinya dia orang Korea karena warna kulitnya agak legam. Maaf bukannya bermaksud rasis, tapi yah ekspektasi gw terhadap yg namanya orang Korea kan... Ah well, maap klo ternyata saya rada rasis. : |
Kesan-kesan gw makan di Pyongyang Restaurant, gw cukup merasakan bagaimana para pelayannya berusaha memberikan service terbaik mereka. Melalui pertunjukan sore mereka juga mencoba ngasih lihat sedikit budaya Korea Utara. Kekurangannya paling karena mereka ngga terlalu bisa bahasa Indonesia dan gw sendiri ngga bisa bahasa Korea aja.
Gambar-gambar di menu sangat membantu kita waktu pesan makanan, jadi tinggal tunjuk aja mau yang mana. Restoran ini sangat recomendable buat mereka yang ingin menikmati nostalgia suasana rumah makan tahun 80-90an, dan juga untuk yang penasaran pengen lihat cewe-cewe Korea Utara dengan hanboknya. Gw sendiri masih penasaran dengan menu bebek dan sapi bulgogi nya. Klo ada yang ngajakin lagi sih gw oke-oke aja untuk kembali makan disana.~ :)
Pyong yang Restaurant
Jl. Gandaria 1 No 58, Kebayoran Baru Jakarta Selatan
Phone : 021 - 72800889
Saturday, October 5, 2013
I Love You Dad! (Kumpulan Cerita Kasih Ayah)
Pasangan dari buku I Love You Mom yang terbit beberapa tahun sebelumnya. Disini gw bikin ilustrasi untuk 2 cerita. The Tailor's Son dan Grandfather's Last Letter. Sudah tersedia di toko-toko buku. Mari dibeli. ^^

Judul : I love you, Dad
Penulis : Arleen A
Ilustrator : Evelyn EorG, Cecilia-Ryno, Sherly G, Gina, Andhika
Penerbit : BIP
Jumlah halaman : 212
Bahasa : Bilingual
Harga : Rp 125,000,-
Penulis : Arleen A
Ilustrator : Evelyn EorG, Cecilia-Ryno, Sherly G, Gina, Andhika
Penerbit : BIP
Jumlah halaman : 212
Bahasa : Bilingual
Harga : Rp 125,000,-
Judul-judul di dalam buku ini :
1 Father's Soup (Sup Buatan Ayah)
2 The Storyteller's Son (Anak Pembaca Cerita)
3 The Taxi Driver's Son (Anak Pengemudi Taxi)
4 Who is my father? (Siapa Ayahku?)
5 The Builder's Sons (Anak-anak Pembangun Rumah)
6 The Shopkeeper's Daughter (Anak Penjaga Toko)
7 The Fisherman's Daughter (Anak Nelayan)
8 Father's Magical Smiles (Senyum Ajaib Ayah)
9 Grandpa's Attic (Loteng Kakek)
10 The Best Teacher Ever (Guru yang Terbaik)
11 The Tailor's Son (Anak Penjahit)
12 Grandfather's Last Letter (Surat Terakhir Kakek)
2 The Storyteller's Son (Anak Pembaca Cerita)
3 The Taxi Driver's Son (Anak Pengemudi Taxi)
4 Who is my father? (Siapa Ayahku?)
5 The Builder's Sons (Anak-anak Pembangun Rumah)
6 The Shopkeeper's Daughter (Anak Penjaga Toko)
7 The Fisherman's Daughter (Anak Nelayan)
8 Father's Magical Smiles (Senyum Ajaib Ayah)
9 Grandpa's Attic (Loteng Kakek)
10 The Best Teacher Ever (Guru yang Terbaik)
11 The Tailor's Son (Anak Penjahit)
12 Grandfather's Last Letter (Surat Terakhir Kakek)
Ini adalah kumpulan yang berisi sepuluh cerita dan dua puisi tentang kasih sayang sosok ayah. Di akhir setiap cerita/puisi, ada sebuah projek kebajikan yang sesuai untuk setiap bulan di dalam satu tahun. Buku ini tidak hanya akan membawa kasih dan kehangatan bagi pembacanya, tapi juga menyemangati kita semua untuk berbagi kasih dengan sesama karena kita memang tidak hidup sendirian.
Friday, September 27, 2013
When you have those #AZRAXmoment
Nonton Azrax bisa dibilang 80ribu teraneh, terbahagia, dan terEPIX yang gw gelontorkan. Awalnya ngga terbesit sedikitpun di benak gw buat keluar duid nonton bioskop untuk film-film model B-rate movie. Wong film-film bagus yang emang gw incer aja kadang ngga sempet nontonnya di bioskop. Tapi segalanya berubah ketika negara api menyerang...
*digaplok*
Ehm, segalanya berubah ketika gw membaca chirpstory dari Ryudeka tentang detil pengalamannya menonton Azrax.
Ditambah dengan beberapa review-review lainnya.
http://danieldokter.wordpress.com/2013/09/11/review-azrax-melawan-sindikat-perdagangan-wanita-2013/
Dan juga ini...
Dan kata hati gw pun mengatakan gw harus nonton film ini di bioskop atau gw akan menyesal seumur hidup. Gw mengajak (dengan paksa) ade gw buat nemenin nonton, dan karena pada dasarnya dia ngga minat, mao nga mao harus gw juga yang beliin tiket buat dia.
Dengan bersemangat kita menuju BLOK M Square (beda lagi ya sama Blok M Plaza) jam 2 siang saking gw takut kehabisan tiket. Hal yang sebenarnya ngga perlu sih, karena meskipun lumayan hype di sosmed dan cuma maen 2 shift di 1 studio (yep, ini film cuma diputer di Blok M Square), yang beli tiket ngga pernah nyampe menuhin bioskop. Jadi kita pun menunggu sore sambil jalan-jalan di Little Tokyo dan nyobain restoran ramen bernama Echigoya biar ade gw ngga bete-bete amat.
Mentari pun terbenam, jam 7 sore film diputar. Gw rada degdegan sebenernya. Takut ternyata ngga enjoy, takut filmnya ternyata boring, takut ade gw abis nonton film ngomel-ngomel meminta 2-3 jam hidupnya dikembalikan. Tapi semua skeptisisme itu langsung dihancurkan setelah 1 dialog dari AA Azrax :
"Assalammualaikum"
Yang nonton pasti ngerti deh maksud gw apa dan adegan yang mana. Gw ngga akan ngejelasin panjang-panjang mengenai cerita dan detilnya. Ada banyak blog review laen yang bisa mendeskripsikannya lebih gila daripada gw. Yang pasti 2 jam selanjutnya menjadi rollercoaster penuh tawa di sepanjang film dan gw pun xah menjadi #XahabatAZRAX.
Belom pernah gw ngakak ampe nangis sambil mukul-mukul dan nendangin kursi di dalem bioskop. Belom pernah gw keluar dari bioskop dan berasa bener-bener bahagia. Semua beban hidup mendadak menjadi begitu kecil dan ringan berkat segala petuah sang A'a. Cuma Azrax yang sejauh ini bisa ngasih gw pengalaman kayak gitu. xDD
Klo secara kualitas film, gw bahkan bisa bilang ini film ancur. Tapi sangat layak ditonton rame-rame bareng temen-temen yang juga gila. Klo ampe ntar keluar DVDnya gw pasti beli biar bisa ajak nonton yang laen. Mao ori ato bajakan deh, yang mana yang keluar duluan aja. Eh, tapi #XahabatAZRAX anti pembajakan jadi gw prioritasin ori nya deh. =p
Karena hype nya yang rada di luar jalur, Azrax bertahan sampai 3 minggu tayang di bioskop. Meski yang nayangin tetep cuma Blok M Square, tapi bisa naek dari 2 shift jadi 3 shift pemutaran dan tayang lagi setelah turun bioskop itu hal yang mungkin ngga pernah terjadi dalam dunia perfilman Indonesia. Ramenya kicauan di twitter bahkan sempat ditanggapi curiga seakan yang #XahabatAZRAX pake buzzer buat promoin filmnya. Ada juga yang marah karena kalau film ini laku nantinya Aa Gatot Brajamusti sang empunya film bakal kesenengan dan malah bikin film kayak gini terus yang dianggap membodohi masyarakat Indonesia.
Menurut gw pandangan itu tidak berdasar. Pertama, sebagai yang udah nonton filmnya, gw ngerti banget perasaan pengen share keajaiban film ini biar bisa nonton bareng rame-rame. #XahabatAZRAX sebenarnya hanya mau membagi kebahagiaan yang mereka alami ke sebanyak mungkin orang, tp banyak yang malah salah paham dan dikira buzzer. ^^;
Kedua, meski dengan hype yang lumayan fenomenal, secara pendapatan film ini penontonnya ngga sampai 10ribu orang. Masih kalah jauh banget sama film-film horor mesum penuh paha dada yang selalu laku meski dengan hantu-hantu sampah yang minta ditabok karena udah ngga serem lucu pun ngga. Dengan pengeluaran pembuatan film yang katanya ampe 5M, Azrax jangankan untung, balik modal aja masih jauh bener... Jadi aneh aja klo ada yang sampe takut Azrax menguasai perkancahan film nasional atau semacamnya.
BTW sekedar info, budget film horor mesum biasanya ngga sampe 2M. Tapi kenapa 5M Azrax menghasilkan film dengan kualitas yang begini... itu juga misteri Ilahi. Hanya Tuhan dan Azrax yang tahu kenapa...
Ketiga, Azrax kurang tepat kalau dikatakan membodohi karena film ini justru menantang logika berpikir para penonton. Dan ketika logika penonton dihancurkan mentah-mentah, ajaibnya film ini malah bikin orang ketawa seneng. Okay, I'm not really serious with the third point. Tp sesuatu yang fun kadang nga butuh otak. 8D;
Buat yang denger-denger soal Azrax dan penasaran tapi ngga keburu nonton bioskop dengan alasan apapun, gw sungguh menyarankan kalian nonton rame-rame bareng temen ketika nanti DVDnya keluar. Tapi sedikit warning ya, film ini blom tentu enjoyable buat semua orang. Biasanya cuma mereka yang hidupnya easy men dan enjoy hospitability yang bisa menikmati Azrax. xd *diglindingin*
Dan buat sesama #XahabatAZRAX, gw mengucapkan #XalamLampuTaman ~
BTW, ini review Azrax lainnya yang juga nga kalah gokil.
http://thefreakyteppy.wordpress.com/2013/09/19/movie-review-suka-suka-azrax-spoiler-semua/
*digaplok*
Ehm, segalanya berubah ketika gw membaca chirpstory dari Ryudeka tentang detil pengalamannya menonton Azrax.
Ditambah dengan beberapa review-review lainnya.
http://danieldokter.wordpress.com/2013/09/11/review-azrax-melawan-sindikat-perdagangan-wanita-2013/
Dan juga ini...
Dan kata hati gw pun mengatakan gw harus nonton film ini di bioskop atau gw akan menyesal seumur hidup. Gw mengajak (dengan paksa) ade gw buat nemenin nonton, dan karena pada dasarnya dia ngga minat, mao nga mao harus gw juga yang beliin tiket buat dia.
Dengan bersemangat kita menuju BLOK M Square (beda lagi ya sama Blok M Plaza) jam 2 siang saking gw takut kehabisan tiket. Hal yang sebenarnya ngga perlu sih, karena meskipun lumayan hype di sosmed dan cuma maen 2 shift di 1 studio (yep, ini film cuma diputer di Blok M Square), yang beli tiket ngga pernah nyampe menuhin bioskop. Jadi kita pun menunggu sore sambil jalan-jalan di Little Tokyo dan nyobain restoran ramen bernama Echigoya biar ade gw ngga bete-bete amat.
Mentari pun terbenam, jam 7 sore film diputar. Gw rada degdegan sebenernya. Takut ternyata ngga enjoy, takut filmnya ternyata boring, takut ade gw abis nonton film ngomel-ngomel meminta 2-3 jam hidupnya dikembalikan. Tapi semua skeptisisme itu langsung dihancurkan setelah 1 dialog dari AA Azrax :
"Assalammualaikum"
Yang nonton pasti ngerti deh maksud gw apa dan adegan yang mana. Gw ngga akan ngejelasin panjang-panjang mengenai cerita dan detilnya. Ada banyak blog review laen yang bisa mendeskripsikannya lebih gila daripada gw. Yang pasti 2 jam selanjutnya menjadi rollercoaster penuh tawa di sepanjang film dan gw pun xah menjadi #XahabatAZRAX.
Belom pernah gw ngakak ampe nangis sambil mukul-mukul dan nendangin kursi di dalem bioskop. Belom pernah gw keluar dari bioskop dan berasa bener-bener bahagia. Semua beban hidup mendadak menjadi begitu kecil dan ringan berkat segala petuah sang A'a. Cuma Azrax yang sejauh ini bisa ngasih gw pengalaman kayak gitu. xDD
Klo secara kualitas film, gw bahkan bisa bilang ini film ancur. Tapi sangat layak ditonton rame-rame bareng temen-temen yang juga gila. Klo ampe ntar keluar DVDnya gw pasti beli biar bisa ajak nonton yang laen. Mao ori ato bajakan deh, yang mana yang keluar duluan aja. Eh, tapi #XahabatAZRAX anti pembajakan jadi gw prioritasin ori nya deh. =p
Karena hype nya yang rada di luar jalur, Azrax bertahan sampai 3 minggu tayang di bioskop. Meski yang nayangin tetep cuma Blok M Square, tapi bisa naek dari 2 shift jadi 3 shift pemutaran dan tayang lagi setelah turun bioskop itu hal yang mungkin ngga pernah terjadi dalam dunia perfilman Indonesia. Ramenya kicauan di twitter bahkan sempat ditanggapi curiga seakan yang #XahabatAZRAX pake buzzer buat promoin filmnya. Ada juga yang marah karena kalau film ini laku nantinya Aa Gatot Brajamusti sang empunya film bakal kesenengan dan malah bikin film kayak gini terus yang dianggap membodohi masyarakat Indonesia.
Menurut gw pandangan itu tidak berdasar. Pertama, sebagai yang udah nonton filmnya, gw ngerti banget perasaan pengen share keajaiban film ini biar bisa nonton bareng rame-rame. #XahabatAZRAX sebenarnya hanya mau membagi kebahagiaan yang mereka alami ke sebanyak mungkin orang, tp banyak yang malah salah paham dan dikira buzzer. ^^;
Kedua, meski dengan hype yang lumayan fenomenal, secara pendapatan film ini penontonnya ngga sampai 10ribu orang. Masih kalah jauh banget sama film-film horor mesum penuh paha dada yang selalu laku meski dengan hantu-hantu sampah yang minta ditabok karena udah ngga serem lucu pun ngga. Dengan pengeluaran pembuatan film yang katanya ampe 5M, Azrax jangankan untung, balik modal aja masih jauh bener... Jadi aneh aja klo ada yang sampe takut Azrax menguasai perkancahan film nasional atau semacamnya.
BTW sekedar info, budget film horor mesum biasanya ngga sampe 2M. Tapi kenapa 5M Azrax menghasilkan film dengan kualitas yang begini... itu juga misteri Ilahi. Hanya Tuhan dan Azrax yang tahu kenapa...
Ketiga, Azrax kurang tepat kalau dikatakan membodohi karena film ini justru menantang logika berpikir para penonton. Dan ketika logika penonton dihancurkan mentah-mentah, ajaibnya film ini malah bikin orang ketawa seneng. Okay, I'm not really serious with the third point. Tp sesuatu yang fun kadang nga butuh otak. 8D;
Buat yang denger-denger soal Azrax dan penasaran tapi ngga keburu nonton bioskop dengan alasan apapun, gw sungguh menyarankan kalian nonton rame-rame bareng temen ketika nanti DVDnya keluar. Tapi sedikit warning ya, film ini blom tentu enjoyable buat semua orang. Biasanya cuma mereka yang hidupnya easy men dan enjoy hospitability yang bisa menikmati Azrax. xd *diglindingin*
Dan buat sesama #XahabatAZRAX, gw mengucapkan #XalamLampuTaman ~
http://thefreakyteppy.wordpress.com/2013/09/19/movie-review-suka-suka-azrax-spoiler-semua/
Wednesday, August 28, 2013
From Royal Palace to Street Vendor
Hari ini adalah hari terakhir kita bisa puas-puasin jalan-jalan keliling kota Surakarta. Besok soalnya seharian cuma pergi dari Surakarta kembali ke Adi Sucipto Yogyakarta, nungguin pesawat, terbang kembali ke Jakarta dan berjuang menerjang macet sampai kembali ke rumah.
Museum Radya Pustaka letaknya paling dekat hotel, jadi kita kesana terlebih dahulu. Koleksinya mungkin kira-kira mirip Museum Nasional, tapi jauh lebih kecil dan sedikit. Yang spesial dari museum ini adalah koleksi naskah kunonya serta beberapa kitab lontar. Tidak asli memang, hanya berupa salinan. Namun bagi yang bisa membaca Hanacaraka, bisa berbahasa Jawa (terutama mungkin Kromo Hinggil), dan hendak mencari informasi tertentu mengenai kesultanan di Jawa, disini bisa menjadi sumber referensi yang bagus.
Selanjutnya kami berjalan kaki sampai Kasunanan Surakarta. Rupanya konflik pada hari sebelumnya membuat kami tidak bisa masuk ke sebagian wilayah keraton. Kami hanya diijinkan di pendopo depan yang menjadi tempat menerima tamu, dan bagian keraton yang memang menjadi museum. Konon Keraton Kasunanan Surakarta merupakan yang paling angker se indonesia karena banyaknya benda-benda keramat yang sudah berusia ratusan tahun. Warna yang mendominasi Keraton Kasunanan Surakarta adalah biru muda.
Sementa Pura Mangkunegaran merupakan kediaman Adipati Surakarta. Tapi sang Adipati dan keluarganya lebih banyak berada di Jakarta sementara Pura Mangkunegaran dikunjungi bila ada acara-acara tertentu. Warna yang mendominasi tempat ini adalah hijau muda. Koleksinya tidak seangker Kasunanan Surakarta, namun cukup informatif untuk memberi gambaran kehidupan para Adipati maupun bangsawan Jawa dalam beberapa generasi.
Yang lumayan membuat kaget adalah besarnya tips yang diminta abdi dalem yang memandu kami. ^^; sewaktu di Yogjakarta beberapa tahun lalu, guidenya cenderung lebih malu-malu dalam meminta. Mungkin enak juga ketika mereka lebih jelas meminta tips sehingga tidak ada kesalahpahaman. Tapi agak bingung sebenarnya wajarnya berapa jumlahnya.
Usai dari Pura Mangkunegaran, kami isi perut sejenak dengan makan soto di area Triwindu dan nasi timlo. Kedua makanan ini sebenarnya mirip, hanya beda beberapa isinya. Keduanya menggunakan daging sapi (mungkin sebenarnya ada juga timlo daging ayam). Kuahnya jernih, gurih tapi ringan, membuat dagingnya terasa mantab. ^^
Karena gw masih penasaran dengan keberadaan mall yang mirip CP di Solo, gw sedikit mencari informasi dan ternyata ada mall lain yang namanya Solo Square. Dari jalan slamet riyadi kita menuju arah barat sampai jalurnya jadi 2 arah. Lalu kita naik bus sampai ke depan Solo Square yang ternyata posisinya bahkan melewati Stasiun Purwosari.
Kesan gw tentang Solo Square, mall nya cukup oke dan lebih bagus daripada Solo Grand Mall. Tapi kalau dibilang mirip CP terus terang gw masih rada sangsi. :S Entah apa sebenernya masih ada pusat perbelanjaan lain di Solo.
Di Solo Square kita keliling-keliling sambil nyemil Sour Sally dan Teh Taiwan. Lalu kita naik Batik Solo Trans kembali ke Slamet Riyadi, berjalan kaki menuju Jalan Yos Sudarso untuk mencari Warung Shijack. Yang spesial dari warung ini adalah mereka menyediakan susu segar dengan berbagai rasa di menunya, beserta makanan camilan dan gorengan lainnya. Sewaktu kembali ke hotel, ternyata ada Warung Shijack lain yang letaknya jauh lebih dekat. --; kita malah carinya di tempat yang jauh...
Ciao~
Rencananya di siang hari kita hendak mengunjungi Museum Radya Pustaka, Keraton Kasunanan, dan Pura Mangkunegaran. Tapi pagi ini terdengar kabar mengenai konflik di Keraton Surakarta. Katanya mengenai halal bihalal dan pengangkatan jabatan keluarga Keraton yang bermasalah dan menjadi bentrok. Berita tersebut lumayan bikin cemas kalau-kalau acara hari ini akan sedikit terganggu.
![]() |
| Kasunanan Surakarta |
![]() |
| Pura Mangkunegaran |
Yang lumayan membuat kaget adalah besarnya tips yang diminta abdi dalem yang memandu kami. ^^; sewaktu di Yogjakarta beberapa tahun lalu, guidenya cenderung lebih malu-malu dalam meminta. Mungkin enak juga ketika mereka lebih jelas meminta tips sehingga tidak ada kesalahpahaman. Tapi agak bingung sebenarnya wajarnya berapa jumlahnya.
Usai dari Pura Mangkunegaran, kami isi perut sejenak dengan makan soto di area Triwindu dan nasi timlo. Kedua makanan ini sebenarnya mirip, hanya beda beberapa isinya. Keduanya menggunakan daging sapi (mungkin sebenarnya ada juga timlo daging ayam). Kuahnya jernih, gurih tapi ringan, membuat dagingnya terasa mantab. ^^
Karena gw masih penasaran dengan keberadaan mall yang mirip CP di Solo, gw sedikit mencari informasi dan ternyata ada mall lain yang namanya Solo Square. Dari jalan slamet riyadi kita menuju arah barat sampai jalurnya jadi 2 arah. Lalu kita naik bus sampai ke depan Solo Square yang ternyata posisinya bahkan melewati Stasiun Purwosari.
Kesan gw tentang Solo Square, mall nya cukup oke dan lebih bagus daripada Solo Grand Mall. Tapi kalau dibilang mirip CP terus terang gw masih rada sangsi. :S Entah apa sebenernya masih ada pusat perbelanjaan lain di Solo.
Di Solo Square kita keliling-keliling sambil nyemil Sour Sally dan Teh Taiwan. Lalu kita naik Batik Solo Trans kembali ke Slamet Riyadi, berjalan kaki menuju Jalan Yos Sudarso untuk mencari Warung Shijack. Yang spesial dari warung ini adalah mereka menyediakan susu segar dengan berbagai rasa di menunya, beserta makanan camilan dan gorengan lainnya. Sewaktu kembali ke hotel, ternyata ada Warung Shijack lain yang letaknya jauh lebih dekat. --; kita malah carinya di tempat yang jauh...
Yah, demikian bisa dibilang seluruh petualangan kami di Yogyakarta dan Solo. Besok kami sudah harus berberes-beres dan kembali lagi ke Jakarta. Tahun depan mungkin gw pengen ke Trowulan di Jawa Timur, sebelum situsnya rusak karena katanya mau ada pabrik baja yang didirikan di tempat tersebut. T_T
Ciao~
Monday, August 26, 2013
Cetho, Sukuh, Tawangmangu
Sekitar jam 8 kami mulai keluar dari hotel. Karena tidak menemukan Bus Atmo di Slamet Riyadi, akhirnya kami mencoba naik taksi ke Terminal Tirtonadi dari depan Novotel. Ternyata naik taksinya minta minimal bayar rp20.000,- meski argonya tidak sampai segitu. Kayaknya kecuali buat nanti pulang ke stasiun, kita nga akan pake taksi lagi. :S
Dari Terminal Tirtonadi kita naik bus jurusan tawangmangu lalu turun di terminal Karangpandan. Kemudian naik lagi minibus sampai pertigaan Nglorok. Disini kita sewa ojek untuk ke Candi Cetho, Candi Sukuh, dan Air Terjun Tawangmangu. Entah apa harga ojeknya lagi mahal atau wajah semi oriental kita memang sangat ngga menolong untuk menawar harga sehingga kita dimintanya sampai Rp 200.000,- untuk 2 ojek . Padahal kalau baca-baca blog orang kayaknya pada dapet 30-50rb per ojek.
![]() |
| Candi Sukuh |
![]() |
| Candi Cetho |
Begitu pula dengan Candi Cetho. Ada beberapa patung dan relief bergambar, tapi tidak pada candinya sendiri. Candi cetho mengingatkan saya dengan pura umat Hindu, dan disekitar situ memang penduduknya banyak pemeluk agama Hindu. Candi cetho sendiri sepertinya masih digunakan untuk upacara keagamaan.
Medan menuju candi cetho dan sukuh dihiasi area perkebunan sayur dan teh yang juga sangat indah. Kebun-kebunnya tidak securam di Dieng, tapi karena kita menggunakan motor, tanjakan, turunan, dan kelak-kelok nya lumayan bikin deg-degan. Tapi jalan tersebut ternyata ngga ada apa-apanya dibanding jalan belakang menuju Tawangmangu. Sudah curam, lebih sempit, tikungannya lebih tajam, dan jalanannya gradakan tidak rata. +_+;
Tapi syukurlah kita sampai dengan baik ke pintu loket 2 Tawangmangu. Normalnya orang mengakses dari loket 1 supaya tinggal turun saja. Tapi karena kita dari loket 2, kita harus menanjak terus sampai ke air terjun.
![]() |
| Air Terjun Tawangmangu |
Setelah ngos-ngosan menanjak sampai ke loket 1, kami masih harus berjalan kaki sampai ke Terminal Tawangmangu. Ada bus rute ke Solo yang sedang ngetem, jadi kami pun segera naik dan sekitar 2 jam kemudian sampai kembali di kota Surakarta.
Kita makan sedikit dan jalan-jalan sejenak di Solo Grand Mall, lalu berjalan kaki sepanjang Slamet Riyadi ke arah hotel. Tadinya kita mau jalan lebih lanjut ke arah timur, tapi ade gw mendadak kejeblos lubang trotoar sehingga sedikit keseleo. Jadinya kita makan sore di restoran yang cukup dekat dengan hotel. Namanya O-Solo-Mio~
O-Solo-Mio adalah Restoran Italia yang pizzanya dibakar menggunakan semacam tungku. Mungkin kalau di Jakarta seperti Peppenero atau Pisa Cafe. Saladnya banyak dan enak. Pizzanya juga tidak terlalu berminyak. Suasana restorannya asik buat pacaran atau ngobrol-ngobrol dengan teman. Harganya tapi mahal, mungkin ini sebenarnya high class resto di Solo. ^^;
Jadwal untuk besok mungkin lebih santai tapi tetap butuh tenaga, sebab kita akan mengunjungi beberapa museum dan seharian mengelilingi kota Solo.
Location:
Karanganyar, Central Java, Indonesia
Sunday, August 25, 2013
To Surakarta
![]() |
| Stasiun Tugu |
![]() |
| Stasiun Solo Balapan |
Setelah santai sejenak di hotel, kami memutuskan menghabiskan hari untuk keliling-keliling kota Solo dan mengenal medan. Entah apa karena gw sehari-hari di Jakarta, atau karena hari hari ini hari Minggu, kesan pertama yang gw tangkap adalah Solo itu sepiii banget. Oo; jalanan lancar minah, bus yang lewat amat sangat jarang, toko-toko sudah pada tutup atau mungkin belum pada buka. Hal lain yang menarik dari kota ini adalah trotoarnya yang sungguh luas dan ditanami pohon-pohon rindang. Kadang ada becak, motor, sepeda yang bersliweran, atau pkl makanan berjualan, tapi cukup nyaman dan menyenangkan berjalan kaki di kota ini. :)
![]() |
| Ini trotoar di Jalan Slamet Riyadi |
Karena perut ade gw sudah keroncongan, kami bergegas berjalan kaki mencari makan. Dari Pasar Triwindu belok ke kanan (dekat Pura Mangkunegaran) kami ketemu restoran yang desainnya lucu dan antik. Namanya Tiga Tjeret. Gw nyobain Wedang 3 Tjeret nya, sementara ade gw memesan rootbeer khas restoran tersebut (lupa namanya, tapi warnanya ungu), nasi ayam kremes, dan beberapa gorengan. Semua minuman dan makanannya enak-enak. Baik lidah dan perut kami sejenak dipuaskan disana.
Hanya ada kejadian tidak enak ketika sewaktu kami makan mendadak ada maling helm diteriakin orang-orang. Entah ketangkep atau tidak, tapi hal itu langsung membuat kami lebih waspada dengan barang bawaan masing-masing.
![]() |
| Pasar Triwindu |
![]() |
| Tiga Tjeret |
Semakin larut malam sepertinya para penduduk solo mulai menampakkan diri sambil menampakkan nafsu makannya. Tempat-tempat makan yang tadinya sepi jadi ramai dipenuhi pengunjung.
Jam 6 sore kami kembali ke Galabo dan mencari sate buntel yang tersohor. Sate Buntel ternyata lumayan mahal. Harganya Rp25ribu hanya dapat 2 tusuk sate dan sepiring nasi. Tapi rasanya memang enak banget. Kata ade gw sate buntel mirip daging sapi giling dibungkus ala sosis lalu dibakar. Bumbu kecap dan ladanya menambah citarasa dagingnya yang sudah lezat. :d
Pulang dari Galabo kami kembali ke restoran Tiga Tjeret karena roti bakarnya hanya ada malam-malam dan ade gw penasaran. Di malam hari tempat ini juga jadi rame banget. Selain roti bakar es krim. Ade gw juga memesan beberapa tusuk sate random dan minuman wedang. Setelah itu kami pun berjalan kaki kembali ke hotel dan beristirahat mempersiapkan diri karena besok mau ngacir ke wilayah Karanganyar.
Saturday, August 24, 2013
Plateau of Gods and Potatoes
Informasi tentang candi-candi kecil di sekitar Yogyakarta selama ini gw cari dari mbah google. Berdasarkan sumber yang sama, hari ini gw menuju Dieng pake kendaraan umum. Dari penginapan kita naik TransJogja dan turun di terminal Jombor, lalu naik bus ekonomi ke Magelang. Dari Magelang kita naik bus lagi ke Wonosobo selama sekitar 2 jam.
Nah, di Wonosobo kita mulai bingung karena tadinya gw kira bisa langsung 1 kendaraan ke Dieng. Tapi ternyata kita harus naik 2 minibus yang berbeda. Dari Yogyakarta sampai ke dieng kurang lebih butuh 5-6 jam. Dan sepanjang perjalanan kita disuguhi pemandangan kebun dan sawah yang dihiasi pegunungan dari kejauhan. Tapi kalau naik kendaraan umum pada dasarnya harus siap dengan printilan-printilan seperti penjaja barang dagangan, pengamen, supir ngetem lama, perjalanan yang tidak bebas asap rokok, dan keranjang belanjaan penduduk setempat. ^^;
Sesampainya di Dieng, kami yang kelaparan makan dulu di restoran Ibu Djono. Soto ayam nya enak dan segar. Buat camilan sambil jalan kami membeli kentang goreng yang saking nagihnya gw curiga ada campuran ganja nya.
Kompleks Candi Arjuna cukup luas, tapi candinya kecil-kecil. Ada Candi Arjuna, Semar, Srikandi, Puntadewa, Sembadra, serta beberapa tumpukan tanpa nama. Di dekatnya ada Candi Kecil yang sedikit terpisah (lupa apa nama candinya). Lalu berjalan sedikit ke arah atas kita bisa menemukan Candi Gatotkaca.
![]() |
| Kompleks Candi Arjuna |
![]() |
| Candi Gatotkaca |
Sebenarnya di kawasan Dieng masih ada Candi Bima dan beberapa candi lainnya. Tapi karena sudah jam 4 sore, kami memutuskan segera kembali ke Wonosobo supaya tidak terlalu malam waktu sampai di Yogyakarta. Lain waktu harus datang ke Dieng lagi untuk menikmati semua potensi wisata nya sampai puas, soalnya disini afdolnya nginep minimal 1 malam~
Pulang dari Dieng ternyata menjadi cobaan tersendiri buat kami. Jam 5 sore sudah terlalu sore dan tidak ada bus yang masuk terminal lagi. Akhirnya dengan panik kami naik minibus dilanjutkan dengan bus ke arah Semarang dan turun di Secang, Magelang, jam 8 malam. Karena tidak ada bus lagi akhirnya kami naik taksi kembali ke Prawirotaman. Niatnya mau hemat pake kendaraan umum malah keluarnya jadi lumayan. ++;Sebelum balik ke De Pendopo, kami makan dulu di salah satu restoran di sekitar situ. Yang model-model bar sudah lumayan rame. Kami pilihnya yang lebih sepian saja. Harganya mahal untuk standard Yogyakarta, tapi untung makanannya enak. ^^
Malam ini adalah hari terakhir kami bermalam di yogyakarta. Besok waktunya menuju Solo~
Location:
Wonosobo, Central Java, Indonesia
Friday, August 23, 2013
From Temple to Temple
Setelah bangun dan mandi, gw sarapan toasted bread dan cheese omelette, sementara ade gw meminta banana pancake. Perut terisi, kami pun bergegas menuju area borobudur.
Sekian lama menyusuri Jalan Magelang sampe bosan, lalu masuk-masuk jalan kecil sambil tanya-tanya orang, candi pertama yang kami kunjungi adalah Candi Ngawen. Kalau dari bagaimana batu-batunya disusunn sepertinya ada 5 candi utama dan mungkin beberapa candi-candi kecil. Tapi hanya 1 candi yang lumayan terlihat utuh. Di sekelilingnya terdapat parit jalur air.
Perjalanan dilanjutkan menuju Candi Mendut. Candi di Mendut hanya 1, tapi candinya cukup besar dan megah. Bayar retribusinya hanya rp3300,- per orang dan sudah termasuk biaya melihat Candi Pawon. di dekat Candi Mendut ada Vihara Mendut yang apik dipandang sehingga kami melihat-lihat sejenak ke dalamnya.
Mendekati Borobudur, kami berkunjung ke Candi Pawon dahulu. Candi Pawon juga hanya satu candi tunggal yang berdiri, namun ukurannya jauh lebih kecil daripada Candi Mendut. Tidak butuh waktu terlalu lama untuk melihat-lihat dan mengelilingginya.
Perjalanan pun berlanjut ke Borobudur, candi yang mungkin bisa dikatakan candi termegah di Indonesia. Terakhir kali gw dateng kesini mungkin waktu SD atau SMP. Rasanya banyak perubahan di kompleks candi ini dalam belasan tahun tersebut. Kompleksnya menjadi jauh lebih rapih dan besar. Biaya masuknya lumayan, rp 30.000,- per orang. Tambah Rp 7500,- kalau mau naik semacam kereta supaya bisa langsung ke pintu masuk candi tanpa perlu berjalan kaki.
Luasnya candi borobudur lumayan membuat ngos-ngosan. Sekitar 4 lantai pertama penuh relief yang ramai. Coba gw bisa mengerti apa maksud relief-relief tersebut, sayang pengetahuan gw masih sangat cetek. Tapi puas banget rasanya waktu akhirnya sampai di lantai paling atas dengan stupa-stupa yang membuat perasaan plong.
Turun dari candi kita kembali ngos-ngosan berjalan kaki ke tempat parkir motor dan pake nyasar di tempat para pedagang souvenir. Terik matahari siang juga lumayan sukses membakar kulit meski gw dah lumayan pake sunblock. ++;
Sekian lama menyusuri Jalan Magelang sampe bosan, lalu masuk-masuk jalan kecil sambil tanya-tanya orang, candi pertama yang kami kunjungi adalah Candi Ngawen. Kalau dari bagaimana batu-batunya disusunn sepertinya ada 5 candi utama dan mungkin beberapa candi-candi kecil. Tapi hanya 1 candi yang lumayan terlihat utuh. Di sekelilingnya terdapat parit jalur air.
Perjalanan dilanjutkan menuju Candi Mendut. Candi di Mendut hanya 1, tapi candinya cukup besar dan megah. Bayar retribusinya hanya rp3300,- per orang dan sudah termasuk biaya melihat Candi Pawon. di dekat Candi Mendut ada Vihara Mendut yang apik dipandang sehingga kami melihat-lihat sejenak ke dalamnya.
![]() |
| Candi Ngawen |
![]() |
| Vihara Mendut |
![]() |
| Candi Mendut |
![]() |
| Candi Pawon |
Luasnya candi borobudur lumayan membuat ngos-ngosan. Sekitar 4 lantai pertama penuh relief yang ramai. Coba gw bisa mengerti apa maksud relief-relief tersebut, sayang pengetahuan gw masih sangat cetek. Tapi puas banget rasanya waktu akhirnya sampai di lantai paling atas dengan stupa-stupa yang membuat perasaan plong.
Turun dari candi kita kembali ngos-ngosan berjalan kaki ke tempat parkir motor dan pake nyasar di tempat para pedagang souvenir. Terik matahari siang juga lumayan sukses membakar kulit meski gw dah lumayan pake sunblock. ++;
![]() |
| Candi Borobudur |
Kami kembali ke Jalan Magelang menuju Yogyakarta. Untuk makan siang, kami mampir di Restoran Jejamuran yang cukup terkenal. Makanannya oke, tapi tadinya gw expect lebih banyak variasi jamur di menu nya. Misalnya jamur kuping, enoki, atau shimeji. Yang kita pesen hanya jamur portabello crispy dan jamur king oyster lada hitam. Ngga difoto karena udah lupa saking lapernya.
Perjalanan dari candi ke candi masih belum selesai. Setelah kenyang, kami menuju candi-candi sekitar Kalasan, yaitu Candi Sambisari, Candi Sari, dan Candi Kalasan.
Candi Sambisari terletak cukup dalam melewati sawah, kebun, dan pemukiman penduduk. Candi ini cukup unik karena letaknya yang cukup menjorok ke dalam. Ada 1 candi utama yang berhadapan dengan 3 candi kecil yang masih berupa tumpukan batu.
Perjalanan dari candi ke candi masih belum selesai. Setelah kenyang, kami menuju candi-candi sekitar Kalasan, yaitu Candi Sambisari, Candi Sari, dan Candi Kalasan.
Candi Sambisari terletak cukup dalam melewati sawah, kebun, dan pemukiman penduduk. Candi ini cukup unik karena letaknya yang cukup menjorok ke dalam. Ada 1 candi utama yang berhadapan dengan 3 candi kecil yang masih berupa tumpukan batu.
![]() |
| Candi Sambisari |
Candi Sari dan Kalasan cenderung lebih mudah ditemukan. Candi Sari ada di sebelah utara jalan Adi Sucipto, di belokan tepat sebelum masjid dengan atap kubah yang agak nyentrik, lalu lurus terus sampai ketemu candinya. Bentuknya mirip Candi Plaosan tapi lebih besar, di dalamnya ada 3 ruangan dan dulu sepertinya bertingkat 2.
Sementara Candi Kalasan ada di sebelah selatan jalan. Setelah putar balik ke arah Yogyakarta, ada belokan setelah restoran ayam bakar Kalasan/Candi Sari (saya lupa nama restoran persisnya) lalu belok kiri dan kita langsung disuguhkan cantiknya Candi Kalasan. Konon Candi ini untuk memuja Dewi Tara. Sayang kondisinya cukup buruk. Bahkan tidak ada tangga undakan untuk masuk ke dalamnya. Ada sih tumpukan batu yang kalau dipanjat-panjat sepertinya bisa masuk ke dalam. Tapi karena gw takut ngegelinding jatoh maka gw urungkan niat buat nekat masuk. --;
Waktu sudah semakin sore dan candi-candi lain pun sudah tutup. Kami segera ke daerah Keraton untuk makan sore di Bale Raos. Letaknya dekat pintu belakang Keraton. Menu-menunya unik dan enak-enak. Banyak menu yang katanya favorit Sultan Hamengkubuwono VIII atau diciptakan oleh Sultan Hamengkubuwono IX yang hobi memasak. Kita memesan Salad Djawa, Bistik Djawa, Bir Djawa (non alkohol), Teh Kayu Manis, dan beberapa dessert. Bistik Djawa sebenarnya lebih mirip makanan Eropa, tapi dikasih saus khas yang agak manis. Rasanya benar-benar mantap. Mungkin ini steak burger terenak yang pernah gw makan sampai sekarang.



Setelah kenyang makan makanan ala Sultan Yogyakarta, kami mampir ke toko Coklat Monggo di Tirtodipuran dan membeli buanyak coklat buat oleh-oleh. Ntah berapa yang akan bertahan sampai nanti kembali ke jakarta. XD
Kami kembali ke prawirotaman, mengembalikan motor sewaan, lalu puas-puasin mandi setelah tadi berdekilria di jalanan. Besok mungkin akan lebih menantang lagi, karena kami hendak mengunjungi dataran tinggi Dieng dengan mengandalkan kendaraan umum.
![]() |
| Candi Sari |
![]() |
| Candi Kalasan |



Setelah kenyang makan makanan ala Sultan Yogyakarta, kami mampir ke toko Coklat Monggo di Tirtodipuran dan membeli buanyak coklat buat oleh-oleh. Ntah berapa yang akan bertahan sampai nanti kembali ke jakarta. XD
Kami kembali ke prawirotaman, mengembalikan motor sewaan, lalu puas-puasin mandi setelah tadi berdekilria di jalanan. Besok mungkin akan lebih menantang lagi, karena kami hendak mengunjungi dataran tinggi Dieng dengan mengandalkan kendaraan umum.
Location:
Borobudur, Magelang 56553, Indonesia
Subscribe to:
Posts (Atom)








































