Monday, January 26, 2009

The Year of Ox~


Setahun sudah berlalu dan sudah tibalah tahun Kerbau. Konon di tahun ini sebagai warga shio Kerbau justru keberuntungannya ngga gede-gede amat dan mesti kerja keras (tp rasanya tiap tahun disuruhnya ya kerja keras =P) dan sepertinya sudah dimulai dengan jumlah duit angpao yang menipis dibanding kemaren2 serta cuaca berawan hari ini yang bikin gw ngga bisa liat gerhana matahari yang mungkin cuma ada sekali seumur hidup gw… ;_;
Tapi semoga tahun ini pun bisa membawa berkah buat gw dan keluarga serta kebahagiaan bagi semua orang. ^^

Gong Xi Fat Chai!!!
Happy Chinese New Year!!!


^^

Sunday, January 25, 2009

Jogja Jogja~

5 things I love about Jogja :

1. Objek Wisata (Sangat cantik dan kental nuansa budaya, luasnya wothed buat harga tiketnya yang ngga mahal amat. Buat pecinta seni/budaya/arkeologi pasti betah berlama-lama.)

2. TransJogja (Sarana transportasi yang amat sangat membantu. Bisa kemana2 di sekitar Jogja dengan 3000 rupiah sekali naek, bahkan sampe Prambanan.)

3. Makanan (Enak dan murah, 20rebu dah bisa buat makan sampe kenyang banget. Yang lebih mewah kayak 'Bale Raos' pun harganya masih reasonable.)

4. Suasana (Ngga seperti di Jakarta, jalan2 malem atau ke stasiun di Jogja ngga terlalu bikin waswas. Meski gw rasa bukannya ngga ada kriminalitas dan tetep aja harus hati-hati, tapi suasananya cukup bikin rileks kalau dibandingkan Jakarta.)

5. Informasi (Cukup terlihat jelas terutama dari pemandu wisata kalau mereka sangat well informed dan peduli dengan objek wisata yang mereka jaga. Sistem jalan di Jogja juga nga terlalu ribet sehingga mudah nanya arah kalau mang sampe ngga tau apa-apa)



Sekitar seminggu kemaren akhirnya kesampean juga gw jalan2 di Jogja xD. Bener-bener beda nuansanya kalau dibandingin dengan Jakarta. Sedikit nyesel gw belom cobain beberapa hal kayak nonton wayang ato Ramayana yang di Prambanan. Mungkin kapan2 gw bakal kesana lagi, dan next time gw nga bakal kejebak sama tukang becak. >,<

Thanks a lot buat Varly yang dah nemenin. Entah apa yang terjadi kalau gw sendirian disana. xD;;

Beberapa foto selama di Jogja :

Purawisata - Ramayana Ballet

Istana Air Taman Sari

Candi Prambanan

Candi Keraton Ratu Boko

Keraton Jogjakarta

^^v




Thursday, January 8, 2009

Tetralogi Laskar Pelangi - Andrea Hirata

Laskar Pelangi

Cukup lama setelah rilis baru gw tonton film fenomenal ini. Gw mau menunggu selesai
membaca novelnya dulu baru nonton filmnya. Kesan gw ketika selesai baca, novel ini agak terlalu hiperbola buat gw. Penggunaan timing waktu yang berlompatan di setiap ‘mozaik’nya cukup membuat gw bingung. Banyak hal-hal yang membuat gw sedikit berkerut kening (terutama kalau bagian Lintang sedang menjelaskan suatu ilmu) karena banyak kata-kata yang gw ngga ngerti. ^^;

Yah, mungkin gw nya juga yang kurang intelek, dan dalam bayangan gw ketika membaca Laskar Pelangi, gw sedang membaca sebuah novel cerita, bukan memoar seseorang sehingga rasanya aneh kalau anak-anak SD ini menggunakan kata-kata dengan penjelasan yang orang dewasa aja bisa kelimpungan. Endingnya yang ngegantung juga lumayan bikin gw bingung. Padahal kalau dipikir-pikir sekarang sebenarnya gantung karena memang belum selesai.

Tapi secara keseluruhan, Laskar Pelangi adalah novel yang sarat akan makna, suatu bentuk sastra yang mendobrak dan bermutu diantara sekian banyak bacaan populer lainnya, jenaka sekaligus mengharukan dan sangat berkesan di hati. Kisah perjuangan anak-anak Belitong untuk mengenyam pendidikan, kisah anak-anak Laskar Pelangi dengan keunikan dan kehebatan masing-masing. Memoar masa SD Andrea Hirata bersama.

Film Laskar Pelangi sendiri bisa menangkap novelnya dengan penyampaian yang baik meski alur ceritanya jauh diringkas. Karena filmnya lebih sebagai ‘cerita pendidikan’ maka ada beberapa hal yang berbeda dengan novelnya untuk menambah dramatisasi kisahnya. Yang jelas berbeda adalah adegan cerdas cermat, di film tingkat kesulitan soal-soal cerdas cermatnya lebih masuk akal dan peran Tora Sudiro sebagai guru SD PN bukan menjadi antagonis, tapi justru membantu anak-anak Laskar Pelangi dari SD Muhammadiyah ini. Pendidikan juga menjadi tema penting bagi film ini, jauh lebih ditekankan daripada di novelnya sendiri menurut gw.

Yang juga sangat gw sukai dari Laskar Pelangi ini adalah cinematografinya yang bisa banget mengisahkan keindahan alam Belitong serta suasana sosial masyarakatnya. Ditambah lagi dengan soundtrack dari Nidji yang cocok banget dengan inti novel dan filmnya. Laskar Pelangi adalah novel dan film yang patut diancungi jempol dan wajib dimiliki. Terutama novelnya, karena semua kebingungan dan keraguan gw ketika membaca Laskar Pelangi justru semakin memudar sampai hilang tanpa bekas ketika membaca lanjutan-lanjutan tetraloginya. ^^


Sang Pemimpi & Edensor

2 Judul ini gw review bersama karena aspek kedekatan ceritanya yang sangat terikat pada keberadaan tokoh Arai.

Entah apa karena gw semakin terbiasa dengan gaya bahasanya, atau karena tokoh-tokohnya beranjak lebih dewasa sehingga pembicaraan-pembicaraan ilmiah yang terjadi lebih bisa diterima otak gw, Sang Pemimpi dan Edensor bisa gw nikmati dengan sangat baik. Keduanya berfokus pada Ikal dan Arai dalam menjalani hidup penuh tantangan demi menggapai mimpi-mimpi mereka yang besar. Mulanya gw cukup bertanya-tanya kemana anggota-anggota Laskar Pelangi lainnya dan kenapa tidak diungkit-ungkit lagi. Tapi kemudian gw mencoba maklum mungkin pengarang ingin mengisahkan babak baru hidupnya mang memang tidak lagi berfokus pada Laskar Pelangi, melainkan pada sepupunya, Arai.

Sang Pemimpi mengisahkan Ikal dan Arai ketika beranjak remaja dengan kisah-kisah persahabatan mereka, bagaimana Arai selalu memberikan motivasi positif dalam kehidupan Ikal, sampai kemudian mereka mengadu nasib di Pulau Jawa dan berjuang mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Sorbonne, Perancis.

Sedang Edensor lebih menyuguhkan petualangan Ikal dan Arai ketika kuliah di Perancis, menjalani kehidupan mahasiswa S2 masih dengan mimpi-mimpi gila yang terwujud dengan petualangan backpacking mereka keliling Eropa sampai Afrika. Tokoh A Ling yang muncul di Laskar Pelangi, meski tidak muncul disini tapi menjadi motivasi penting bagi Ikal untuk menaklukan dunia. Kenapa judulnya Edensor? Kalau dibaca pasti akan tahu sendiri. xD

Seperti Laskar Pelangi, kedua buku ini membawa pembaca untuk berani bermimpi dan berani berjuang demi mimpi-mimpi itu. Membawa kita untuk selalu melihat hidup ini secara positif dan mengajarkan kalau kepesimisan hanya membatasi diri sendiri untuk menggapai mimpi. Bila memiliki Laskar Pelangi, maka 2 buku ini juga wajib dimiliki. Dan bila 3 buku tersebut sudah habis dibaca, berarti list selanjutnya untuk bacaan wajib adalah Maryamah Karpov.


Maryamah Karpov (Mimpi-Mimpi Lintang)

Maryamah Karpov adalah klimaks dari Tetralogi Laskar Pelangi. Buku ini gw nobatkan sebagai novel terbaik yang pernah gw baca sejauh ini. Gw benar-benar sudah bisa menikmati
gaya bahasanya di buku ke-4 ini dan perubahan dari ‘mozaik’ ke ‘mozaik’ nya dirancang dengan sangat pintar dan menggelitik. Maryamah Karpov juga gw rasa merupakan yang paling tebal diantara 4 novel itu.

Ada bagian yang jenaka, bagian yang mengharukan, ada juga bagian yang penuh petualangan dan menegangkan. Perbandingan kultural antara masing-masing ras penghuni Pulau Belitong juga digambarkan dengan detil disini sehingga sampai pertengahan novel tadinya gw kira Maryamah Karpov lebih membahas hal-hal kultural dibanding novel-novel sebelumnya. Pada Novel sebelumnya Andrea Hirata juga sering memberikan perbandingan kultural mahasiswa-mahasiswa dari berbagai negara yang satu kuliah dengannya. Namun di novel ini suasana budayanya benar-benar terasa buat gw (mungkin karena settingnya Indonesia). Meski demikian dari awal sampai akhir novel ini berhasil menyihir gw sehingga menjadi tergila-gila akan tetralogi fenomenal ini.

Kelemahannya adalah untuk menikmati novel ini secara utuh berarti harus membaca mulai dari Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, sampai Edensor. Karena Maryamah Karpov merupakan intisari semuanya dengan keberadaan Arai, anggota Laskar Pelangi, dan A Ling yang menjadi fokus penting dalam keseluruhan cerita.

Maryamah Karpov mengisahkan Ikal (sang penulis, Andrea Hirata) yang sudah menyelesaikan studi S2nya di Sorbonne, Perancis, dan kemudian kembali ke Belitong. Kembali ke realita Indonesia yang jelas berbeda dengan manisnya Paris (terutama secara transportasi), kembali ke keluarga yang sudah menantinya, kembali ke lingkungan tempat ia besar sejak lahir. Kisah kemudian bergulir ketika Ikal kemudian menemukan petunjuk penting akan keberadaan A Ling dan berjuang mati-matian meski menghadapi cemoohan banyak orang untuk menemukan cinta pertamanya itu, meski harus mempertaruhkan nyawa mati ditelan laut atau dibunuh kaum Lanun.

Ending Maryamah Karpov juga sangat-sangat berkesan dan justru sangat rasional terjadi, namun penempatannya membuat pembaca bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada Ikal dalam menghadapi masalah yang jauh lebih berat daripada perjuangan keliling dunia maupun berlayar menuju sarang bajak laut Malaka. (Atau apakah Tetralogi ini ternyata belum selesai? :D)

Memang sepertinya banyak yang kecewa karena Andrea Hirata sepertinya memberikan statement kalau Maryamah Karpov adalah novel tentang wanita sehingga ekspektasinya jadi berbeda (untungnya gw nga tahu mengenai statement itu sewaktu baca sehingga memang tidak berekspektasi apa-apa dari awal, tapi harus gw akui gw cukup bingung dengan pemilihan judul yang kali ini tidak terlalu berhubungan dengan kisahnya sendiri) dan malah cocokan taglinenya, atau menganggap kisah novel ini terlalu mustahil terjadi pada hidup seseorang sehingga dianggap kebohongan. Ketika membaca Laskar Pelangi pun gw merasa demikian, namun akhirnya sama memutuskan tidak peduli apakah ini benar kejadian atau cuma bumbu-bumbu kisah, apakah ini novel atau memuar atau biografi, gw dah ngga peduli. Karena gw ingin menikmatinya sebagai suatu kisah cerita dan karya sastra, entah ini fiksi maupun non-fiksi.

Saturday, December 27, 2008

Maharani - Pearl S. Buck

Gw membeli novel ini karena tertarik dengan bagaimana Pearl S. Buck menggambarkan karakter Ci Xi, penguasa wanita terakhir di Cina. Judul aslinya adalah “Imperial Woman”. Sebelumnya gw sudah membaca Empress Orchid dan The Last Empress karya Anchee Min, dan semakin membaca Maharani, semakin kontras perbedaan karakterisasi dalam interpretasi kedua penulis tersebut.

Anchee Min menggambarkan Orchid sebagai wanita pejuang berpikiran terbuka akan pengaruh barat dan cenderung innocent, namun namanya dijelek-jelekan oleh sejarah. Sementara Pearl S. Buck menggambarkan sang Ratu dengan kebalikannya. Orchid adalah wanita yang cantik dan anggun, dia tahu dirinya cantik, dia punya harga diri tinggi, dan dia tahu betapa angkuh dan berambisi dirinya.

Gw sendiri lebih suka karakterisasi dari Pearl S.Buck. Lebih masuk akal rasanya seorang Ratu, bangsawan Manchu yang menjadi selir kesayangan Kaisar Cina sampai kemudian menjadi ibu suri itu sendiri memiliki sikap seperti itu. Ci Xi juga digambarkan membenci pengaruh asing disini. Bukal hal yang aneh sebenarnya kalau dia tidak menyukai bangsa asing ketika yang dia lihat adalah masuknya candu yang menggerogoti rakyatnya serta masuknya agama lain yang dianggap tidak menghormati keberadaan agama-agama yang sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu di Cina. Klimaks cerita ada pada bagaimana dia akhirnya menerima kenyataan kalau jaman sudah berubah dan akhirnya mencoba melakukan rekonsiliasi dengan pihak asing karena gagalnya Pemberontakan Boxer.

Penulisan dalam Maharani juga tidak terlalu banyak deskripsi yang tidak perlu. Jalan cerita dan perkembangan karakternya juga lebih terasa. Hanya saja harus gw akui novel ini pun tidak terlalu banyak memberi intrik cerita dan lebih terfokus pada karakter sang Ratu. Namun bagaimana hubungan antar karakter yang terjadi pada novel mulai ketika Orchid diangkat menjadi Selir sampai kemudian dijuluki Sang Buddha Tua tetap menarik untuk diikuti. Untuk penggemar novel-novel yang berhubungan dengan sejarah, Maharani layak dimiliki.



Thursday, December 25, 2008

Merry Christmas & Happy New Year


Merry Christmas 2008
&
Happy New Year 2009
^^


Semoga Natal dan Tahun Baru ini membawa berkah dan kebahagiaan bagi semua orang.
God bless you all~


Sunday, December 21, 2008

Twilight – Stephenie Meyer

Ketika pertama kali gw melihat novel Twilight di toko buku, gw cukup tertarik melihat covernya sampai kemudian gw baca sinopsis di belakangnya yang membuat gw ngeh kalo novel ini adalah kisah cinta antara vampir dan manusia biasa. Tema seperti itu rasanya dah lumayan standard dan sering ge temui di komik-komik, so gw taro kembali novel tersebut.

Sampai kemudian gw dengar di radio mengenai gimana bagusnya Twilight dan animo pembacanya yang besar sampai buku ini sempat menjadi nomor 1 best seller di Aksara sehingga gw akhirnya kalah sama iklan dan rasa penasaran. Maka gw beli ketiga buku tersebut di toko buku online karena kalau beli sepaket jatuhnya lebih murah. Gw juga baru tahu belakangan kalau Eclipse itu belum selesai dan masih ada buku ke-4nya. (Tetralogi? ^^;)

Ketiga buku itu kemudian berdiam sejenak dan tak gw baca-baca karena gw masih terpukau dengan Edensor. Tapi sampai saat itu ekspektasi gw novel ini masih lumayan berbobot paling ngga secara cerita since sepertinya Twilight benar-benar sedang booming. Kemudian sebelum gw baca novelnya gw nonton dulu Movienya bersama teman2 gw. Gw nyadar dengan make-up yang kelebihan bedak banget dr awal, namun ngga terlalu bother dengan semua itu (baru tau belakangan juga kalau ini film low-budget). Toh gw suka dengan pemandangan alam dan suasana kota tempat Bella pindah yang dingin-dingin adem.

Gw juga menyadari ada yang aneh dengan cerita maupun karakterisasinya yang rada cheesy, namun gw masih dimanjakan oleh suguhan karakter Edward (Pattison) yang menurut gw cakep banget dan romance yang bener-bener berasa terutama di adegan ketika mereka tidur-tiduran di rumput sambil saling memandang (yah meski bling-bling glitter di badan Edwardnya lumayan merusak suasana ^^;). In the end akhirnya gw menyadari kalau gw harus menurunkan ekspektasi gw ketika membaca novel dengan harapan paling ngga ini serial romantis cheesy biasa, tapi masih menghibur. Terutama karena temen gw ada yang sangat muak dengan filmnya tapi masih bisa toleransi novelnya.

Namun ternyata semua itu tetap ngga menolong kalau pada akhirnya gw ngga suka dengan novel ini, dengan segala macem deskripsi ngga perlu yang ngga penting-penting amat dalam cerita, dengan pemasukan mitos vampir dan werewolf yang mungkin kreatif karena beda dengan mitos vampir umum namun kurang digali dengan baik, dengan karakterisasi Bella dan Edward yang ketidakberesannya jauh lebih berasa di novel ini (since jauh lebih banyak monolognya Bella, apalagi pengambilannya dari sudut pandang orang pertama, sementara di movie detil2 itu dipotong banyak sehingga Bella berasa lebih normal), dengan diulang-ulangnya pujian2 Edward yang begitu luar biasa amat sangat tampan bagai Dewa Yunani dan membuat Bella kleper-kleper sementara Bella sendiri selalu pesimistis akan penampilannya (dan ngga nyadar kalau dia Madonna sekolah barunya itu) namun banyak yang kontradiktif dari sikap-sikapnya. Belum lagi dengan keplinplanan Edward dan sikap overprotektif ditambah dengan potensinya sebagai stalker. --;

Awal-awal buku masih berasa manis diikuti, namun semakin lama semakin membosankan seiring dengan semakin banyaknya dialog tanya jawab antara Bella dan Edward. Cerita sedikit terselamatkan dengan munculnya 3 vampir asing yang menambah konflik sehingga Bella dikejar-kejar mereka untuk dijadikan mangsa (meski berbeda dengan movie dimana mereka bertiga dah dikasih lihat dari awal-awal, di novel mereka baru muncul dari 1/3 bagian terakhir). 3 vampir itu menambah suspense dalam kisah ini, meski suspensenya cuma sebagai bumbu seadanya supaya ceritanya jadi ngga boring. Endingnya pun cukup standard, mungkin untuk menjadi basis buku selanjutnya.

Yang masih lumayan di novelnya adalah keberadaan karakter-karakter lain yang lebih punya arti (teman-teman Bella, anggota keluarga Cullen yang lain, terutama Alice) sementara di movie teman-teman Bella hanya ada untuk menunjukan interaksi Bella sebagai remaja SMA, dan keluarga Cullen ada karena di novel mereka ada. Padahal masing-masing dari mereka juga punya keunikan, terutama Alice yang masa lalunya beberapa kali disinggung di novel tapi jadi ngga penting di movienya. Begitu pula karakter Jacob, kalau lihat sinopsis novel selanjutnya seharusnya ia adalah karakter penting yang menjadi rival Edward. Tapi kalau lihat di movienya jelas-jelas Jacob kalah dari Edward secara fisik maupun mental.

Tapi gw sendiri ngga bisa menampik kenyataan kepopuleran novel dan movie Twilight yang luar biasa sampe ada yang rela nonton 3-5x. So kesimpulan gw, Twilight mungkin cocok buat mereka yang memang mencari bacaan ringan dengan sedikit guilty pleasure mengenai romantisme vampir-manusia. Tapi buat yang cari bacaan berbobot, Twilight bukan bacaan yang direkomendasikan.

Menurut temen gw yang dah baca, buku ke-2 dan ke-3nya lebih parah dari buku pertama, bikin gw sedih since gw dah beli sampe buku ke-3. --;;;



Wednesday, December 3, 2008

Kumpulan Dongeng Kerajaan


Telah terbit Kumpulan Dongeng Kerajaan yang ditulis oleh Arleen Amidjaja. Buku ini berisi 10 cerita bertema kerajaan bergambar yang merupakan kolaborasi dari 8 ilustrator. Cocok untuk hadiah, bekal liburan, maupun untuk koleksi.

Kumpulan Dongeng Kerajaan
Penulis : Arleen A
Ilustrator : Evelyn, Herlina, Ella, Miden, Ferry, Irene D, Andhika, Winarti
Penerbit : BIP
jumlah halaman : 200 halaman
bahasa : Bilingual
ukuran buku : 22 x 28 cm
harga : Rp 98,000

10 cerita dalam kumpulan ini :
1. The Governess' Pearls (Mutiara Ibu Pengasuh)
2. The Knight's Sword (Pedang Sang Kesatria)
3. The Baker Boy's Wish Box (Kotak Permintaan Si Tukang Roti)
4. The Queen's Blankets (Selimut Sang Ratu)
5. The Dragon's Egg (Telur Naga)
6. The King's Wish (Keinginan Raja)
7. The New Cook's Soup (Sup Buatan Tukang Masak Baru)
8. The Princess' Gown (Gaun Pesta Putri)
9. The Princess' Problem (Persoalan Sang Putri)
10. The King's Horse (Kuda Pribadi Raja)

Beli yaaa~ Gw gambar ilustrasi yang cerita no.3, seneng banget akhirnya buku ini sudah terbit. Thanks a lot Kak Arleen. ^___^

Keterangan lebih lengkapnya dapat dilihat DISINI~


Wednesday, October 1, 2008

Selamat Idul Fitri 1429H



Selamat Idul Fitri

Minal Aidin Wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir dan Batin



Meski ngga ngerayain, tapi ngga apa-apa dong kasih ucapan selamat dan ikutan makan ketupat. ^^ Semoga Rahmadan dan Hari Kemenangan ini menjadi berkah bagi semua yang merayakan.~


Sunday, September 21, 2008

Empress Orchid, The Last Empress

“Empress Orchid” merupakan novel karya Anchee Min dengan basis fakta sejarah yang mengisahkan seorang Wanita bernama Anggrek yang menjadi Selir Kaisar Dinasti Qing yang di kemudian hari menjadi seorang Maharani yang dikenal dengan nama Ci Xi. “The Last Empress” merupakan lanjutan dari “Empress Orchid” yang mengisahkan kehidupannya setelah menjadi Maharani sampai kematiannya. Gw tertarik membeli dan membacanya, selain karena ketertarikan gw dengan hal-hal yang berbau sejarah, juga karena sepertinya novel ini memberikan gambaran sang Maharani dari sudut yang berbeda. Dan ternyata memang benar.

Jika di banyak sumber Maharani Ci Xi sering digambarkan sebagai wanita kejam yang menghalalkan segala cara untuk mempertahankan kekuasaannya, pada novel ini karakter Anggrek justru terkesan bijak daripada licik. Hal yang paling membuat Anggrek benar-benar ‘menghalalkan segala cara’ hanya paling terlihat ketika dia sedang berjuang untuk mendapatkan cinta Kaisar. Isu feminis nya pun sangat terasa pada kedua novel ini.

Secara keseluruhan, novel ini cukup menarik untuk gw baca, namun beberapa hal mengganggu kenyamanan gw ketika menikmatinya (meski mungkin ini juga masalah selera). Isu feminis yang disodorkan terlalu terasa, dan karakter Anggrek buat gw terkesan terlalu innocent. Apalagi dengan penceritaan sudut pandang pertama sehingga timbul kesan kalau Anggrek lah yang paling benar dan semua orang yang melawannya tidak mengerti dia.

Yah, mungkin itu karena novel ini memang mencoba mengangkat ceritanya dari sudut pandang sang Maharani daripada dari tulisan2 sejarah (apalagi sejarah yang kental didominasi kaum pria kadang cenderung mudah menyalahkan figur wanita sebagai penyebab kehancuran). Bukannya gw pengen si tokoh utama digambarkan sebagai penjahat, tapi masa ngga sebersit dia berpikir untuk kepentingannya sendiri (terutama pada novel The Last Empress).

Gw termasuk tipe yang berpikir ketika manusia sudah mencicipi lezatnya kuasa rasanya susah untuk percaya kalau apa yang dia lakukan motifnya semurni semulia yang diucap bibir. xd

Lepas dari itu semua novel ini termasuk menarik. Mengisahkan perjuangan seorang wanita di tengah kerasnya dunia yang ia tapaki dimana rasa dengki dan ancaman kematian senantiasa membayangi, dengan detil-detil historis yang menambah pengetahuan serta penggambaran akan budaya dan kehidupan Kota Terlarang masa itu yang sangat informatif. Penikmat novel sejarah mungkin akan tertarik untuk mengkoleksinya. ^^

Duh, jadi kepingin cari "Becoming Madam Mao" nya Anchee Min sama "Imperial Woman" nya Pearl S. Buck.


Saturday, September 13, 2008

Topeng Monyet


Hari ini ketika sedang menyusuri jalan Adhyaksa dari Cirendeu menuju Lebak Bulus, gw melihat ngga 1... ngga 2... tapi 6 pemain topeng monyet masing2 dengan gerobak dan monyetnya. Jumlahnya membuat gw berpikir apa ini Trend sebelum lebaran, atau topeng monyet lagi in lagi untuk mencari nafkah, atau gw dah terlalu lama ngga keluar rumah sampe ngga menyadari kemunculan mereka. Gw memang melihat 3-5 topeng monyet berjejer di jalan setiap kali gw ke Mayestik nganterin nyokap, tp gw ngga nyangka di Lebak Bulus mereka juga ada.

Di pinggir jalan mereka mempertontonkan sang monyet yang sudah didandani macam-macam, dengan alunan musik dangdut untuk menarik perhatian, sambil menunggu uang yang diberikan para pengguna jalan.

Topeng monyet di ingatan gw semasa kecil rasanya berbeda modus operandinya dengan yang sekarang. Dulu mereka berjalan2 di kompleks perumahan sambil menunggu orang yang memang memanggil mereka untuk mempertunjukkan jasa hiburannya, biasanya untuk hiburan anaknya dan juga anak-anak sekitar rumah. Monyetnya juga lebih beratraksi, terkadang bekerja sama dengan seekor anjing, atau kadang sang pawang juga memiliki box berisi ular yang juga menjadi bagian dari pertunjukan. Alunan musiknya juga lebih tradisional, seingat gw pake gendang. Lebih seperti seniman hiburan daripada sekedar memperlihatkan monyet dan menunggu uang datang.

Yah, tapi meski pembawaannya sudah bergeser, keberadaan mereka membuat gw jadi bernostalgia masa kecil ketika keluarga gw atau tetangga dulu suka memangil topeng monyet dan menghibur semua orang. ^^