Showing posts with label rant. Show all posts
Showing posts with label rant. Show all posts

Thursday, July 2, 2015

Lika-liku Ojek dan GOJEK

Sebelumnya gw mau ngiklan sejenak. Buat yang mau coba Gojek pertama kali, bisa coba masukin referral code 542716465 biar dapet Go-Jek credit Rp50.000,- buat ngegojek gratis. :)

Beberapa minggu terakhir ini Gojek lumayan ramai diperbincangkan. Terutama sejak ada orang yang posting gimana Gojek pesanannya cancel 2x gara-gara dicegat para tukang ojek pangkalan. Setiap kali gw lewat pangkalan ojek juga tidak jarang terdengar keluhan mereka sama keberadaan Gojek yang membuat pendapatan mereka makin seret. Gw awalnya sempet ngira kisah orang yang Gojeknya cancel 2x itu bagian PR dari Gojek sendiri biar awareness masyarakat ke Gojek meningkat sekalian dia juga lagi promo Ceban Ramadhan. Tapi spanduk larangan maupun pengusiran terang-terangan para driver Gojek ini membuat gesekan antar keduanya makin ketahuan. Para tukang ojek pangkalan ini berusaha mati-matian menjaga eksistensi mereka dengan memusuhi Gojek dimana menurut gw itu sungguh... Goblok.

Goblok karena upaya mereka justru amat sangat kontraproduktif. Ini era dimana sosmed memantau dimana-mana dan semua info bisa cepat tersebar hanya dengan modal ketik-ketik dan upload foto. Pengguna Gojek itu semuanya melek sosmed. Kelakuan para abang ojek konvensional (yang mungkin sebenernya nga semuanya kayak gitu tapi yang baik-baik pun jadi kena imbas juga) cuma akan terlihat sebagai upaya premanisme yang akhirnya bikin orang makin males pake ojek pangkalan karena stigmanya sebagai orang kalah saing dan cuma bisa pake kekerasan.


Terus itu spanduk larangan, beneran deh... Mikirnya mungkin biar Gojek pada takut? Apa ngga ada yang nyadar kalau ojek-ojek pangkalan berspanduk melarang Gojek Goblek (Grabbike kali ya maksudnya?) itu justru jadi iklan gratis yg bikin orang makin naik awarenessnya dan ngomongin Gojek? Ngga suka tapi malah imbasnya ngiklanin gratis ya lucu juga sih jadinya.

Semakin Gojek dibully orang justru makin simpati sama armada hijau ini. Apalagi Gojek emang ngasih banyak service yang sulit didapatkan dari tukang ojek pangkalan. Selama tukang-tukang ojek konvensional ini cari uang tanpa mau puter otak buat nyenengin konsumennya ya ngga mungkin menang lah. Gw kesel karena harusnya suka-suka gw sebagai konsumen untuk ngasih duid ke siapapun yang gw mau. Kenapa tau-tau ada pihak yang merasa lebih berhak atas duid konsumen hanya karena dia sudah 'lama' di bidang usaha tersebut? Padahal servis juga ngga lebih bagus.

Dan mau dibilang apa kenyataannya model apps begini ngga cuma memudahkan konsumen memesan ojek, tapi juga memudahkan driver untuk mendapat penumpang lebih banyak sehingga pendapatan mereka sangat oke. Berduyun-duyun orang dari berbagai kalangan tertarik untuk menjadi armada Gojek. Saking banyaknya sekarang malah dibatasin hanya terima 300 orang pendaftar dalam sehari. Kalau armada Gojek ini makin besar jumlahnya, apa ngga balik tukang ojek pangkalan yang preman itu yang akhirnya mati kutu?

Gw sendiri selama ini cuma pakai jasa ojek kalau benar-benar amat sangat kepepet banget karena sebelum ada Gojek gw sangat ilfil dengan moda transportasi yang satu ini. Pertama-tama soal harga, keluhan mayoritas orang sama ojek konvensional. Selain harga tembak yang kadang ngga kira-kira, yang paling males dari ojek konvensional adalah ketika elu lagi dianterin tau-tau di tengah jalan abangnya minta nambah duid dari biaya yang sudah disepakati gara-gara berasa kejauhan. Itu nyebelin pake banget!

Kedua, gw merasa para tukang ojek ini banyak yang baperan. Kalau misalnya gw pernah pakai seorang ojek di suatu pangkalan 1-2x, misalnya suatu ketika gw pakai tukang ojek lain, tau-tau bisa ngambek. Terus tiap kali gw lewat pangkalan itu mereka sungguh berharap gw memakai jasa mereka meski gw lagi ngga butuh. Kalau gw lagi butuh ojek, pasti gw langsung samperin dan ngga harus dipanggil-panggil gitu. Ojek-ojek baper ini yang bikin gw ngga pernah mau menggunakan jasa ojek di pangkalan yang sehari-harinya sering gw lewatin.

Kadang ada juga kasusnya yang pas butuh tapi ojek-ojek pangkalannya pada ogah-ogahan nganterin. Trus oper-oper ke temennya yang lain dan masang tarif seenak jidat karena ngeliat si konsumen lagi kepepet. Gw ngga bilang Gojek ngga kayak gini, tapi karena pesennya dari apps setidaknya gw ngga perlu liat proses ogah-ogahan itu di depan mata gw.

Lalu yang terakhir sebenarnya bukan masalah-masalah amat tapi lumayan penting bagi banyak orang, higienitas. Banyak tukang ojek yang... ya... bau... Dan helm mereka juga rada-rada mencemaskan karena ngga dirawat. Sementara para driver Gojek relatif bersih, sopan, ramah, pake dikasih hair cover dan masker mulut juga. Harga fair karena tertera jelas sesuai perhitungan jarak. Gimana konsumen ngga kepincut kalau dikasih alternatif yang jauh lebih baik?

So far gw belum pernah cobain GrabBike sih. Tadi pagi mau coba tapi ngga dapet yang mau nganterin. Jadi belum bisa bandingin gimana kualitasnya. 


Btw, gw pernah baca artikel seorang ojek konvensional yang tidak mau ikutan Gojek karena SIM dan STNK maupun surat-surat kependudukannya ada yang nga lengkap (dimana malah bikin gw makin serem sama ojek konvensional karena identitasnya ngga jelas). Mereka juga malas karena pembagian 80-20 dan menganggap pemilik apps cuma ongkang-ongkang kaki tau-tau dapet duid 20% pendapatan driver. Yah, pantes lah susah kaya kalau mereka pikir jadi bos itu kerjaannya cuma ongkang-ongkang kaki. ==;

Gw sendiri seandainya saja bisa bawa motor mungkin udah daftar ikut Gojek. Bokap gw juga kepincut pengen ikutan Gojek, tapi sayangnya batasan umur drivernya cuma sampai 50 tahun. :/

Sekali mengantar minimal dapatnya Rp20.000,- (Rp25.000,- minus 20% nya). Kalau misalnya full time ngojek tapi rada malas, anggap saja dalam sehari mengantar 5x sehingga pendapatan Rp100.000,-/hari. Dalam sebulan itu sudah dapat 3 juta dan harusnya masih bisa lebih. Kalau rajin malah pendapatannya mengalahkan gaji orang kantoran. Apa mendingan gw belajar naik sepeda dulu ya...

Note. semua image yang gw post disini bukan gw yang ngambil. Didapat dari berbagai sumber berita online~

Saturday, August 30, 2014

Eating Noodles~

Mie, Yamie, Lamien, Ramen, Soba, Udon, Kwetiaw, Beehoon, Pho, Spaghetti, Fetucini, anything that look like edible long string made from flour~

I want to argue my Mom about the proper way of eating noodles, but if she'll get mad because I object her way of eating noodles then I guess it ain't worth it. So I just rant about it here... :P (The last time I argue her about drinking fruit juice in restaurant, she didn't speak to me for about 3 days.)

So according to my Mom, when we're eating noodles it is an unrefined manner if I slurped them until the end of the noodle. We should bite it in the middle, chew and swallow, then continue to put the noodle in mouth, bit-chew-swallow again until they're all gone.

I can understand she doesn't want me to look like a pitiful uncultured person who seems to never eat noodles before. And I agree chewing is an important healthy process when you eat. But I prefer to not bite them in the middle.

Why...?
Because I think noodles are made as symbolization for longevity. So I feel bad to cut it in the middle. Fried Noodles are always served in most of Asian wedding right? Isn't it a symbol for having a long life and long good relationship?

Second, it's my way to appreciate whoever cook the noodle. It can be interpreted as the noodle is really good and I like it so much that I couldn't even stop to bite it in the middle. *__*
Who won't like it when someone eating your dish in full of passion? Especially if they're finished without any remain in the bowl, isn't it the best appreciation for the chef and make the dishwasher job a bit easier?

I guess the etiquette for eating noodles are different depending where you are. Like I've heard it's actually polite to slurping and a bit noisy when you eat noodles in Japan. I will eat it how I think it'll be the best way to enjoy them.~

Om nom nom nom~

Sunday, July 20, 2014

Cemas cemas cemas... (2014 Presidential Election)


Pemilihan Presiden kali ini rasanya pemilihan paling panas, paling seru, paling berwarna, paling bikin geregetan, sekaligus paling serem yang pernah gw alami dalam hampir 30 tahun hidup gw di dunia. Gw ngga nyangka bakal segininya untuk pemilu kali ini. Semua kepentingan terlibat dari yang paling atas sampai paling bawah. Peran masyarakat pun semakin aktif dan perang sosmed makin menggila. Buat yang ngga suka ngikutin berita-berita politik gw rasa bulan Juni-Juli ini sangat memuakkan buat mereka.

Eskalasi panas semakin memuncak mendekati tanggal 9 Juli 2014. Fitnah semakin macam-macam dan emosi makin mudah tersulut. Banyak yang berantem atau putus hubungan katanya karena beda pilihan capres. Bokap gw dan beberapa teman kantor gw pemilih Prabowo, dan bos gw juga lebih suka sama Prabowo. Tapi untungnya itu ngga membuat gw putus hubungan jadi anak atau dipecat. Kita masih bisa ngobrol dan berdebat dengan sehat mengemukakan argumen masing-masing. Tapi tentu ada momen awkward juga, dan gw sangat berharap setelah 9 Juli 2014 sudah ada pemenang dan kita semua bisa move on siapapun presidennya.

Tapi gw salah...

Kegembiraan gw ketika Jokowi diumumkan menang QuickCount hanya sebentar dan beralih menjadi keresahan ketika Prabowo pun berkata mereka menang dengan menggunakan hasil QuickCount mereka. Mereka dengan TVone nya mengadakan acara seolah-olah mereka pemenang sesungguhnya dan terzolimi kubu sebelah, menuduh QC lawan itu sudah dipesan padahal lembaga-lembaga quickcount yang memenangkan mereka malah tidak mau diaudit. RRI bahkana sampai dipanggil DPR dan dituduh memihak karena hasil QuickCountnya memenangkan Jokowi. Kubu 01 memaksa untuk tidak mempercayai hasil QC dan menunggu hasil RealCount KPU tanggal 22 nanti.

Belum lagi wawancara sang capres di BBC dan statement-statementnya yang semakin membuat gw ngga bisa respek. Tanggal 22 Juli 2014, ketika pengumuman pemenang Presiden, menjadi sesuatu yang lebih mencekam daripada tanggal 9 Juli 2014 sebelumnya, atau bahkan tanggal 21 Desember 2012 yang dulu tersohor dibilang mao kiamat. :V

Semakin dekat tanggal 22, hasil penghitungan pun semakin terlihat. Ditambah dengan sistemasi KPU yang lebih transparan dari sebelumnya sehingga masyarakat ikut terlibat mengawasi bila ada kesalahan-kesalahan dan bisa segera diperbaiki. Dan hasil RealCount pun memenangkan Jokowi dengan kisaran yang tidak jauh beda dengan hasil QuickCount mayoritas lembaga survey. Kali ini kubu 01 yang meminta pengumuman ditunda, meminta pemilihan ulang, ikutan berkata ada yang curang kalau mereka kalah dan mengancam menurunkan massa bila KPU tidak "jujur". Statement siap kalah siap menang itu cuma jadi statement kosong kalo ngga dibarengin ama sikap nyata, Pak.

Dan sekarang, gw menunggu 2 hari lagi akan seperti apa pengumuman Presiden terpilih dari KPU dan berharap dengan sangat kalau semuanaya akan berjalan dengan damai dan diselesaikan dengan baik. Supaya bangsa ini bisa segera kembali menata, memperbaiki diri, dan melangkah ke depan. Jokowi sendiri sudah menginstruksikan supaya tidak boleh ada pengerahan massa, tidak ada penggunaan atribut, dan meminta semua relawan maupun pendukungnya agar jangan ada yang turun ke jalan apalagi euforia merayakan dengan aneh-aneh.

Tapi yah... mungkin tanggal 22 pun belum selesai. Kemungkinan besar pihak yang kalah masih akan menuntut ke MK. Dan rakyat masih harus menanti bagaimana keputusan MK...

Dan gw juga dibikin makin pundung dengan berita perang di jalur Gaza dan pesawat Malaysia Airlines yang ditembak di perbatasan Rusia-Ukraina...

Cemas cemas cemas....


Tuesday, June 24, 2014

Copras Capres~

Salah seorang rekan kantor bertanya kepada gw, "Masih bingung nih nanti pemilu pilih siapa. Bisa ngeyakinin gw ngga? Enaknya pilih yang mana?"

Rasanya belum terlalu lama semenjak terakhir gw merasakan euforia politik sewaktu Pilkada DKI yang dimenangi tim kotak-kotak. Gw harus bilang itu bener-bener contoh kampanye terbaik yang pernah ada di Indonesia. Tahu-tahu sekarang Indonesia lagi panas-panasnya sama urusan pemilu presiden.

Entah apa karena di era ini peran media sosial diberdayagunakan banget sehingga segala macam informasi dan teori konspirasi (yang entah benar atau tidaknya hanya langit yang tahu) berseliweran kesana kemari dan butuh effort lebih untuk dicerna. Tapi ngga cuma di medsos, pembicaraan panas pun jadi sering bermunculan di lingkungan kantor atau rumah. Ada yang jengah dengan massive nya pembicaraan politik dimana-mana dan memilih apatis. Ada yang kepengen milih tapi jadinya bingung sendiri. Ada juga yang heboh mendukung salah satu capres dengan berbagai macam cara.

Gw pendukung capres nomor 2 tapi gw bukan tipe yang mencoba maksa-maksain opini kecuali ada yang secara prinsip mengganggu logika gw. Hashtag yang gw pasang cuma #Bejo, ngga ikut-ikutan pake avatar angka 2 (lebih karena males gantinya, ya sudahlah).

Jadi begini jawaban gw ke temen kantor, "Pilih berdasarkan kepentingan pribadi elu aja, jadi dikira-kira maunya elu lebih cocok sama capres yang mana. Toh semua orang pada akhirnya memilih berdasarkan kepentingan dan keinginan mereka masing-masing."

Yep! Gw percaya seidealis dan seindah apapun orang mendukung capres jagoannya, sekejam dan sekotor apapun orang menghina capres lawan, ujung-ujungnya mereka memilih karena kepentingan, keinginan, atau harapan pribadi mereka diakomodir salah satu capres. Bahkan hal-hal besar kayak kehidupan berbangsa dan bernegara yang baik buat gw ya termasuk keinginan pribadi. Kalau negara ini berjalan sesuai apa yang elu mau tentu hidup elu berasa lebih nyaman kan? Balik-baliknya ya ke diri sendiri juga.

Jadi gw memilih Jokowi karena kepentingan pribadi? Ya iya, semua orang begitu kok, cuma mungkin ngga nyadar atau in denial aja. Apa alasan gw memilih Jokowi? Pertama adalah karena gw lebih condong dengan visi misi Jokowi daripada Prabowo. Kedua karena gw bagian dari industri kreatif dan gw merasa Jokowi lebih memperhatikan soal ini dibanding Prabowo. Ketiga karena hasil kerjanya lebih gw rasain. Jakarta masih jauh dari sempurna (masih macet dan banjir euy), tapi gw bisa melihat sudah ada perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik. Dan dari awal ekspektasi gw lebih ke pembenahan birokrasinya duluan sebelum macet dan banjir.

Tapi bukan berarti gw mempercayai Jokowi 100%. Gw ngga tau apakah setelah dia jadi Presiden dia akan sanggup ngejalanin semua visi misinya atau lagi-lagi tersandera ini itu. Bekingan Jokowi harus gw akui ngga bisa dibilang bersih atau baik semua. Siapa sih yang tahu bagaimana masa depan nantinya. Tapi pada akhirnya ada 1 keinginan gw yang membuat gw tetap memutuskan untuk memilih nomor 2 dengan segala resikonya. Apakah itu? Ntar deh, belakangan aja.

Dan karena ada rekan kerja yang mendukung Prabowo juga gw juga jadi denger cerita-cerita miring soal orang-orang di belakang Jokowi. (Ini bukan soal Jokowi itu Cina Kresten ya. Level gosipan gw nga serendah itu.) Gw menghargai para pendukung Prabowo selama mereka jujur dan masuk akal alasan ngedukungnya. Ada beberapa pendukung Prabowo yang alasannya masih bisa diterima logika gw, lepas dari gw setuju atau ngga dengan pendapatnya. Beda pendapat dan pilihan gpp, yang penting kerjaan ngga kelar dan relasi ngga harus rusak gara-gara pilpres. 

Yang ngga sanggup gw terima biasanya alasan yang model-modelnya bawa-bawa agama, rasis, berita fitnah, ngejelek-jelekin fisik, lalala~ Gw juga ngga suka kalo Prabowo dijelek-jelekan dari agama, ras, fisik, atau status pernikahannya. Fanatisme dan dukungan yang kebablasan ngga pernah bagus kok. :V

Kembali ke kantor gw, setelah mendengar jawaban yang gw tulis di paragraf 5 postingan ini, temen kantor pun sepertinya lebih tenang (mungkin lega karena gw ngga maksa-maksa dia meski gw udah kasih statement dukung nomor 2) tapi dia sendiri masih bingung apa kepentingan pribadinya dan maunya bagaimana.

"Gini deh biar lebih gampang mutusinnya. Kalau Prabowo presiden sih ada gosip Ahok mau dijadiin mendagri. Kalau ternyata ngga jadi mendagri, berarti ya dia masih jadi wagub. Kalau Jokowi presiden, Ahok jadi gubernur DKI dan itu udah pasti karena aturannya demikian. Tinggal pilih aja elu lebih suka opsi yang mana."

Jadi, sudah tahu apa alasan terbesar gw memilih nomor 2? xd

Tuesday, May 27, 2014

Makan-makan di Surabaya~ :3

Makanan-makanan di Surabaya agak di luar ekspektasi gw. Mungkin karena gw bukan asli sana dan gw ngga tau dimana tempat yang makanannya cukup murah dan enak. Variasinya juga kebanyakan penyetan, ayam/bebek bakar, ayam/bebek goreng, rawon, dan soto, yang menurut gw secara menu sudah ada banyak warung-warung Jatim dengan makanan serupa di Jakarta. Kemudian secara harga ternyata ngga jauh beda dengan Jakarta, mungkin malah lebih mahal.

Yang membedakan, kalau makan soto di Jawa Timur, kita dapat banyak potongan dada ayam yang bersih dan empuk serta jarang ada tulang. Sementara di Jakarta, soto 8 rebu isinya bisa banyakan tulang daripada dagingnya. Rasa kuahnya juga ngga se "mecin" soto ayam di Jakarta. Selain itu kalau pesan soto di Surabaya (atau Jawa Timur pada umumnya) nasi sudah tercampur dengan kuah soto, tinggal dimakan langsung dari mangkok. Dan entah kenapa kecap manis bukan bumbu default yang selalu tersedia. ^^;

Tapi meskipun minta kecap manisnya lebih repot, kalau pesan "teh" otomatis kita mendapatkan teh manis. Jadi kalau mau teh tawar harus bilang "tawar" atau "ngga pake gula" dari awal. Oh iya, gw ngga ngeliat ada emping juga sih selama makan soto.

Trus kalo di Jawa Timur, kelapa muda disebutnya "degan". Tadinya gw pikir es degan itu semacem es campur atau dawet tapi pake batok kelapa, ternyata emang es kelapa pake gula doang. ^^; Ngomong-ngomong es campur dan dawet, kita nyobain 2 itu di warung depan Gereja Kepanjen. Harganya sekitar 7-8ribu. Santan dan gula merah di Es Dawet nya mantap tenan. :d

Akan sempurna kalau ada emping dan kecap manis.
Tapi yah dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.

Karena Miki-Sensei suka dengan bangunan-bangunan tua, beberapa destinasi kulinari kita adalah restoran-restoran yang dibangun atau dibuat dengan merenovasi bangunan lama yang sudah ada sejak jaman Belanda.

Misalnya saja 1914, informasi keberadaannya kita dapatkan melalui internet waktu duduk-duduk ngga tau mau ngapain lagi di taman bungkul. Letaknya di jalan Darmokali, sehingga kita jalan kaki kesana dengan mengandalkan peta. Sewaktu sampai disana, venue di gedung ini ternyata banyak.

Gw : "Ini tempat makan, kan?"
Resepsionis : "Iya, tapi ada 3 tempat makan di dalamnya, ada restoran Amerika, restoran Meksiko, dan restoran Jepang. Ada juga Cigar Bar, Wine Bar, serta outdoor garden di belakangnya."
Gw : (Ngeks... mahal neh...) o_o;

Our Mocktails

And yeah, it's pretty damn expensive... >,>;
Karena Resto Jepang nya baru buka jam 6-7 sore, dan kita berdua ngga suka pedes, maka kita memilih Chicago Steakhouse untuk makan malam. Although gw ngga pesen steak karena harganya lebih bikin nangis, gw pesen sandwich dan segelas mocktail yang rada mirip milkshake pake soda. Porsi sandwich yang gw dapatkan ternyata gede banget, jadi secara value harga ngga rugi-rugi amat gw bayar mahal. Cuma saking gedenya, perut gw bener-bener kekenyangan sehingga maag gw mulai ngambek. Gw pun agak menyesal kenapa ngga pesen salad aja buat makan malam. ++;

Tempat makan lainnya yang kita kunjungi karena dibuat dengan merenovasi gedung tua adalah 1903. Letaknya di Jl. Sumatra no.40, sekitar 10-15 menit jalan kaki dari stasiun Gubeng. Kita berdua kesana untuk mengisi waktu menunggu kereta menuju Malang. Jadi ngga bisa lama-lama juga duduk-duduk disana biar ngga ketinggalan kereta.

Kalau sekilas dilihat, ada 2 tempat makan di tempat ini. Pada siang hari, ada Historica coffee and pastry yang kayaknya jadi tempat nongkrong anak muda menengah keatas. Fine diningnya baru buka malem-malem. Gw lupa namanya, klo ngga salah Society atau semacemnya. Kita masuk Historica sambil diliatin bingung sama mas waiternya karena bawa tas ransel gede-gede, nyemil-nyemil apple crumble dan minum latte di Historica. Kurang lebih sebenernya konsep jualan dan harganya kayak Starbucks sih (Eh, apa lebih mahal starbucks ya? Udah lama ngga kesana), cuma ngga se mainstream brand gede itu lah. Desain ruangannya juga lebih chic. Di toiletnya ada mesin jahit tua yang disulap jadi dekor wastafel. xD



Apple crumble nya enak, ngga terlalu manis dan ada sedikit asem biar seger. Dan latte nya juga pretty good. Gw jadi penasaran ama makanan-makanan mereka yang laen, tapi entah kapan bisa balik lagi kesitu. Dan kalaupun mereka buka di Jakarta entah ama minat berkunjung gw masih tinggi atau ngga. Soalnya feelingnya beda ketika mereka nongol di mal sama mereka nongol di mantan bangunan tua.

2 hari terakhir di Surabaya kita juga makan di Restoran Jepang. Jauh-jauh ke Surabaya makannya makanan Jepang? Well, cerita kita nemuin kedua restoran itu agak lucu sih. Selama di Surabaya kita menginap di daerah ruko yang agak antah berantah bernama Darmo Park 2. Letaknya persis disamping Ciputra World, tapi kondisi antara keduanya beda jauh. ^^;

Setiap ngacir dari penginapan kita selalu keluar masuk dari pintu sebelah timur, sampai kemudian 2 hari terakhir di Surabaya kita jalan-jalan ke Carefour untuk beli sedikit keperluan, dan kali ini baliknya masuknya dari pintu sebelah barat yang ternyata kebuka juga. Dan ketika masuk kita menemukan... COSMO... Supermarket Jepang yang klo di Jakarta ada di sekitar Bulungan - Blok M. Dan disampingnya ada 2 restoran Jepang yang kalau lihat bangunan ruko nya sudah lama berdiri disitu. Karena bagian kacanya ditutup stiker kotak-kotak, kita agak susah melihat bagaimana isinya. Lalu di seberangnya ada toko wine/sake yang buka sore-sore. Kalau siang Darmo Park 2 ini kayak ruko-ruko tua ngga jelas, tapi ternyata di malam hari bagian barat nya lumayan hidup. OO;

Karena bangunan-bangunannya sudah tua, asumsi kita restoran-restoran Jepang ini sudah sejak luamaa dan berhasil bertahan sampai akhirnya makanan Jepang booming banget beberapa tahun terakhir ini, dan kita pun jadi excited buat nyobain.

Yang pertama kita masukin namanya "Iki Restoran Jepang". Ketika pintu dibuka, ternyata isinya sudah ramai dengan pengunjung dan kita jadinya ditempatkan di ruang bertatami lantai 2. Tataminya beneran tatami. Pegawai restorannya sempat bingung ada 2 cewek asing nongol di restoran itu karena biasanya yang dateng memang yang sudah langganan.

A bit old, tapi tatami nya beneran.
Ada ruangan tatami lain yang lebih privat.



Miki-Sensei memesan nasi kare seharga 45ribu sementara gw memesan sake-don 70rb (tadinya mau tuna yang lebih murah, tapi habis). Porsi punya gw agak kecil, tapi potongan ikannya enak dan kayaknya nasinya beneran nasi Jepang (ato paling banter KW1 nya). Harga-harga tersebut sudah termasuk sop dan puding kecil. Miki-sensei bahkan dapet mini salad.



Restoran kedua bernama "Saga Restoran Jepang". Kita nyobainnya buat makan sore sebelum ke bandara (penerbangan kita malem-malem). Saga cenderung lebih mahal daripada Iki dan dari buku menu nya ada kesan restoran ini buka nya lebih belakangan. Kali ini gw pesen sashimi set seharga 120rb an (variasi berbagai ikan + cumi-cumi). Sementara Miki-Sensei memesan miso ramen dan takoyaki. Variasi menu di Saga lebih banyak daripada Iki, tapi jenis-jenis makanannya kurang lebih sama.

Indonesian food sudah, Western dan Japanese food sudah. What about Chinese Food? Well, kita ada nyobain 1 restoran bernama Rumah Makan Hai Nam. Letaknya dekat Tugu Pahlawan dan secara tampilan biasa saja. Kira-kira mirip Chinese Food sekitaran Glodok atau Kelapa Gading. Karena ngga ada harga di list menu nya, perasaan gw udah ngga enak, jangan-jangan ini restoran sebenarnya restoran mahal. Gw pun akhirnya bertanya harga nasi hainam ayam nya berapa, pelayannya menjawab 40ribu. Well, lumayan mahal sih. Tapi yang bikin gw rada ngga enak adalah ekspresi pelayannya yang seolah pertanyaan gw mengenai harga makanan itu sesuatu yang aneh. Apa orang Surabaya yang masuk sini itu kaya-kaya semua sampe udah nga mikir harga makanannya? ^^; Ato kebanyakan yang kesitu udah langganan dan udah hafal harganya? I dunno, tapi gw berharap ngga usah lah pasang ekspresi aneh. Apa salahnya sih gw tanya harganya berapa. :V

Nasi hainamnya lumayan, untuk harga segitu gw makan di Kenanga aja bisa dapet nasi hainam campur (ada daging babinya) yang lebih banyak porsinya. Gw ngga berani pesen menu lain karena entah bakal berapa harganya dan kalo gw nanya lagi nanti makin mesem kali yang nyatet pesenan kita. Kalau lihat meja-meja lain sih kebanyakan makan siang besar kayak sop 1 mangkok gede atau seafood dkk. Tapi dibanding gw, Miki-Sensei lebih nyesek. Dia pesen es jeruk dan es campur, waktu bayar ternyata harga es jeruk dan harga es campur sama, 20 ribu rupiah. ^^;

"TAU GITU GW PESEN ES CAMPUR AJA!!! NGA USAH ES JERUK!!!" \(T___T)/
Demikian jeritan hati Miki-Sensei.


Yang terakhir ini adalah tempat makan favorit gw diantara semuanya. Namanya "Zangrandi Ice Cream". Yup, ini cuma toko es krim yang juga menjual beberapa panganan ringan, but I really love this place. Apalagi kalo habis jalan kaki panas-panas keliling kota Surabaya, tempat ini bener-bener menyejukkan jiwa dan raga. Zangrandi Ice Cream terletak di Jl. Yos Sudarso. Konon toko es krim ini sudah ada sejak tahun 1930an. Tapi kalau lihat dekor dan tekstur es krim nya, mereka lumayan merenovasi demi mengikuti perubahan jaman. Kalau pesan es krim nya, kita bisa dikasih air dingin untuk minum setelah makan es krim, dan bisa refill pula. Pelayanannya cukup oke, dan gw dipanggil "Kak". :3 *dikeplak*


Cepat-cepat difoto sebelum meleleh...

Karena kepo kita pesan paket buat berdua yang berisi es krim 6 rasa seharga 55ribu. Sebenernya buat orang pacaran kalo liat nama menu dan piring hati nya, tapi ya sudah lah. 1 lagi gw pesan es krim vanilla yang dikasih saus rum. Tekstur es krimnya mulai mirip Campina, ngga jadul2 amat. Tapi melelehnya lumayan cepet, entah apa gara-gara cuaca emang lagi panas banget. Favorit gw yang vanilla pake rum dan rasa kopyor. Tapi rasa lainnya juga enak-enak~ Kalau lagi main ke Surabaya, gw sangat merekomendasikan tempat ini. Entah buat melepas lelah atau ngobrol-ngobrol bareng temen. ^^

Demikian kisah petualangan kuliner kami di Surabaya. Selanjutnya gw cerita-cerita dulu soal tempat-tempat yang gw kunjungi selama berada di Kota Pahlawan. :)


Friday, January 31, 2014

Tahun Kuda Kayu

Pertama-tama gw ucapkan Selamat Tahun Baru Imlek. Semoga tahun kuda kayu dapat memberikan keberuntungan yang lebih baik bagi kita semua. :)

Meski demikian hari pertama di tahun kuda kayu ini sedikit sial buat gw. Pertama, gw menjatuhkan cangkir kesayangan gw sampai retak ngga bisa dipake lagi, dan gw melakukan ini setelah membaca tweet salah seorang penulis buku yang lagi kasih info soal kepercayaan Imlek bahwa merusak barang di 15 hari pertama tahun baru Imlek adalah pamali banget. ==; Tidak lama setelah itu gw baru menyadari kalau handuk gw hilang 1, sementara handuk lainnya sedang dicuci. Dan gw pun terpaksa mandi pake kain pel paling bersih yg gw punya...

Mood gw udah paling rusak sama masalah handuk yang hilang di hari ini, bikin gw teringat gimana Imlek tahun lalu tau-tau Bokap ngabarin kalau gw harus menanggung hutang yang lumayan besar gara-gara masalah kios pasar dan harus ikut bantu pembayaran cicilannya. Untungnya di pertengahan tahun masalah hutang kios pasar bisa terselesaikan dan sejauh ini gw masih survive hidup dengan baik. So gw harap urusan cangkir pecah dan handuk hilang ini cuma cara Tuhan menghabiskan kuota keapesan gw dari awal biar ke depannya semua berjalan baik. \(T_T)/


Tuesday, November 13, 2012

The awkward moment when...

I don't like rich people's weird shaped minimalist but complicated apartment.

I don't like rich people's excessive international wedding party even though the foods are very very very delicious. =p

I don't like wedding preparation.

helping my family's wedding only make me feel less interested with marriage.

I don't like furniture/door/drawer/window/etc that designed to hide a bit of their identity or functions. 

I don't like to receive expensive things from people I don't trust yet, because I'm worried what they will want from me in the future.

my mother talk excessively good about her children to other people in front of me. (I'm happy but it's kinda awkward)

my mother actually notice even the smallest form of attention from her children.

my father called and get a squawk for my over stressed mother.

I like Jakarta's malls better than Singaporeans. (well, I didn't go to Orchard on my previous trip and I prefer museums or crocodile farm rather than shopping)

I like Jakarta's malls toilets much much better than Singaporeans.

Singaporean taxi driver always complain about their life.

I saw Singaporean old people (I mean, really really old) work hard labor everywhere.

I want to go home because this trip is draining my soul, but it's also the same even if I'm in Jakarta.

As much as I don't like it, I'm still relieved I still go in this trip so my mother didn't endure this alone. (Oh, and now I got stamps on my new passport)



Nyah, enough rants. Now back to the usual stuffs~

Wednesday, July 11, 2012

Pilkada DKI 2012

Tahun ini gw cukup antusias mengikuti pilkada DKI. Kalo dulu soalnya calonnya cuma 2 (apa 3 ya?) dan gw ngga kenal serta ngga tertarik kenal juga dengan karakter masing-masing cagub. Tahun ini DKI mendapatkan variasi cagub yang beragam dan lebih semarak. Kalau ubek-ubek Twitter gw juga lihat lumayan banyak yang biasanya golput tapi kali ini lumayan semangat milih. 

Diantara 6 calon, gw menaruh harapan yang lumayan dengan pasangan calon nomor 3 dan 5. Pasangan Jokowi-Ahok menawarkan perbaikan yang dimulai dari sistem pemerintahan duluan, sementara Faisal Basri memberikan solusi2 untuk kemacetan can banjir yang buat gw cukup komprehensif. Dan mempelajari figur mereka, entah kenapa gw merasa kalau salah satu dari mereka menang mungkin masih ada harapan untuk Jakarta ke depannya. Setelah beberapa hari kebingungan, akhirnya gw memutuskan mencoblos salah satu antara 2 calon tersebut (Rahasia yah. =d). 

Awalnya keluarga gw juga luar biasa apatis menanggapi di pilkada ini. Klo gw nya ngga lagi antusias mungkin  keluarga gw ngga nyoblos sama sekali. Nyokap bahkan mulanya mau coblos Foke. Setelah semua situasi yang terjadi di Mayestik dimana tau2 dibongkar untuk dikasih pihak swasta entah pengembang properti mana, dan kita harus beli kios dan hutang ampe 400juta ke bank dan lagi bingung gimana bayarnya, belom lagi maintenance kios dll dll, gw ngga habis pikir kenapa Nyokap masih percaya ama si kumis itu. Belom dengan mal2 Jakarta yang udah kebanyakan parah ini apa bukan nunjukin kalau 5 tahun terakhir itu yang dipentingin justru pengusaha kaya. Yang kecil2 mana dipandang~ >,> 


Bokap apatis nga peduli, mungkin sudah terlalu sakit buat percaya atau berharap (ngga heran sih dengan gimana korupsi merajalela di semua kalangan dan gimana dia tau klo pilkada udah mau dicurang2in begini begitu). Sementara ade gw, nyah tipikal golput pemalas. =p Jadi beberapa hari ini gw coba bujuk2in paling ngga jangan pilih 1 lagi, sambil bincang2 situasi politik Indonesia bersama Papa dan Mama. Sementara ade gw, gw cuma minta klo emang mao golput ya udah. Tapi tetep datang dan coblos yang aneh2 di kertas suaranya aja biar ngga sah dan ngga disalahgunakan.


Minimal akhirnya kita sekeluarga pagi ini datang ke TPS dan nyoblos. Entah apa yang dicoblos Bokap, Nyokap, dan Ade gw ( meski yah gw promoinnya sih 3 dan 5 xD; ). Sekarang sudah jam 1 siang. Surat2 suara mulai dihitung dan stasiun-stasiun TV sudah berlomba-lomba mengumumkan hasil quick count nya masing-masing. Sekarang gw cuma bisa berdoa semoga siapapun yang jadi gubernur DKI untuk 5 tahun ke depan, Jakarta bisa menjadi lebih baik. Semoga gw masih diijinkan untuk punya harapan kalau masa depan Jakarta, dan juga masa depan bangsa Indonesia secara keseluruhan masih bisa menjadi lebih baik lagi.



Sunday, November 13, 2011

Renungan Marmut Merah Jambu

Gw tau nama Raditya Dika ketika film kambing jantan diluncurkan. Namun gw sendiri ngga nonton filmnya dan cuma sekedar tau kalau Raditya Dika ini menulis buku best seller berjudul kambing jantan (nama apa pula untuk sebuah title buku...) Gw sering melihat dia di provocative proactive, tapi ya sekedar tau-tau aja. Gw pada akhirnya baru benar-benar melihat sosok bernama Raditya Dika ini ketika melihat standupnite nya di youtube yang berhasil membuat gw terpingkal-pingkal, dan berujung meminjam bukunya dari sebuah rental buku di binus. Karena tidak ada buku pertamanya, si kambing jantan, gw akhirnya mencoba membaca Cinta Brontosaurus dan Marmut Merah Jambu.

Buku Marmut Merah Jambu membuat gw banyak berpikir. Pertama karena titlenya bilang marmut, tapi deskripsi pada buku dan ilustrasi yang ada sebenernya lebih cocok buat hamster karena setau gw yg namanya marmut itu versi gede hamster yg juga sering disebut sebagai guinea pig. Dan image mahluk kayak tikus tanpa ekor memakan kuaci yang segede kepalanya dan lari-lari di roda itu lebih lekat diperuntukkan kepada hamster berdasarkan apa yang gw tau selama hidup ini. (Gw pernah piara 2-2nya)
Kedua adalah karena buku ini bertemakan cinta, dan ada aura yang lebih serius dibanding dengan Cinta Brontosaurus, meski di beberapa bagian gw tetep ngakak bacanya. Di bagian akhir buku ada sebuah kalimat yang bikin gw merenung.

"Mencintai seseorang butuh keberanian"

Gw seorang perempuan yang bisa dibilang jomblo seumur hidup. Dan di umur yang terus berjalan melewati seperempat abad kehidupan kadang gw jadi berpikir apa yang salah dari gw sehingga gw ngga pernah punya pacar. Apakah sekedar belum ada orang yang mampu untuk membuat gw mengerahkan seluruh keberanian untuk mencintainya? Atau gw yang terlalu pengecut untuk mencintai seseorang?

Gw bukannya ngga pernah jatuh cinta. Cinta masa sd gw bisa dibilng cinta monyet yang mudah suka mudah pula pudarnya. Cinta pertama gw yang bisa dibilang serius di masa smp juga bisa dibilang bad ending. Dan sejak itu gw seperti kehilangan hasrat untuk mencoba apa yang disebut pacaran.

Hipotesa gw sejauh ini, gw terlalu takut untuk disakiti sehingga gw malas untuk jatuh cinta. Dan buat gw yang lebay, rada posesif, suka parno dan panikan, cinta adalah emosi yang menakutkan dan terlalu besar buat bisa gw handle. Gw takut kalau gw jatuh cinta gw bisa kayak nina dan nini di marmut merah jambu mengingat bagaimana erornya gw di smp ketika sedang mengalami melodrama cinta pertama.

May 1 : hoi, itu kejadian udah 10 tahun lebih berlalu dan sekarang elu dah dewasa. Ya beda laaaah~
May 2 : jadi sekarang elu ngga lebay ato gampang panik?
May 1 : ... *hening*

Sekitar kuliah gw pernah mengalami crush 1-2x, tapi kemalasan campur kerendahdirian dan ketakutan akan apa yang terjadi klo gw memupuk perasaan itu membuat semuanya berakhir sekedar crush doang. Apalagi sekarang gw dah ngantor dan bulan-bulan ini deadline terus menumpuk dan menumpuk.


Scenario 1 : Gw jatuh cinta dan pacaran
Kemungkinan Efek Samping : Setiap hari mikirin dia, senyum-senyum sendiri, IQ menurun, logika kurang bekerja dengan baik, hati dan wawasan menyempit, tiap hari update twitter dan facebook tentang kebahagiaan gw, obsessed, belanja-belanja buat dandan supaya tampil oke, makin besar pengeluaran, mesti sisipin waktu buat si dia, lupa kerjaan, lupa deadline, kerjaan dan deadline berantakan, diomelin bos dan klien-klien, dipecat dengan tidak hormat... dll (variasi efek samping bergantung pada gw pacaran dengan cowo seperti apa)

Scenario 2 : Gw jatuh cinta dan patah hati
Kemungkinan Efek Samping : Setiap hari kepikiran, self-blaming, IQ menurun, EQ nga bisa diandalkan, kontrol keran kantong air mata sulit bekerja dengan baik, stress, depresi, dendam dan amarah yang sulit dipendam, bikin susah orang-orang sekitar, status facebook dan twitter jadi emo semua, in-denial, jadi orang aneh, ngga bisa konsen kerja, lupa kerjaan, lupa deadline, kerjaan dan deadline berantakan, diomelin bos dan klien-klien, dipecat dengan tidak hormat... dll (variasi efek samping bergantung pada sebesar apa rasa suka gw dan sesakit apa gw ditolak) 
Yea~ yea~ Call me lebay, avoidant, whatever~ 

Kadang mikir ini Raditya Dika nulis kejadian2 cinta2 masa lalunya yg banyak apa ngga berasa pilu-pilu dikit ya... Gw aja inget masa-masa itu jadi mellow sendiri. (Tapi yah sekarang si RD udah punya pacar sih ya. >,> ).



Gw bukannya ngga pernah ditembak. 2x malah. Yang pertama oleh semacem alay jejepangan yang nembak gw melalui sms ketika gw tengah stress dikejar deadline dan bahkan ngga ingat sama sekali siapa orang ini dan dimana dia ketemu gw. Yang kedua gw langsung dilamar di bus kuning hijau 102 oleh seseorang yang sepertinya warga negara afrika dan langsung meminta gw menjadi istrinya. Ok mungkin seumur hidup gw ngga pernah pacaran tapi bukan berarti gw ngga punya hak milih-milih kan? ++; 2 peristiwa tersebut hanya menambah rentetan ketidak beruntungan dan keparnoan gw terhadap urusan relasi 2 manusia ini.

Yah gw sendiri ngga pengen desperate. Yang gw takutin justru yang desperate adalah orang-orang di sekitar gw dengan segala agenda kepentingannya masing-masing. Gw bakal ketemu jodoh gw kelak atau gw bakal stay single, gw pengen tetep enjoy gimana pun jadinya. Toh siapa sih yang akan tahu masa depan kayak apa yang bakal menanti gw. (Pliss oh Tuhan, masa depan gw entah married ato single semoga baik-baik saja... T_T)

Yang penting sekarang, gw ngga ingin jadian hanya karena takut sendirian, dan gw ngga ingin sendirian hanya karena takut jadian. Gw ingin apapun dan bagaimanapun nantinya semua berdasarkan keputusan yang sudah ditimbang matang-matang dan penuh tanggung jawab. \ >,< /

Gw juga ngga ingin cinta jadi sesuatu momok yang menakutkan buat gw. Sejauh ini buat yang satu ini gw belom nemu pemecahan masalahnya dan masih agak ambigu juga apa sumber utama penyebab ketakutan gw ama emosi yang satu ini. Semoga kelak gw bisa dapat pencerahan.

Buat Raditya Dika, terima kasih banyak karena sudah menghibur gw dengan stand up comedynya dan menulis buku yang membuat gw ngakak sekaligus merenungi kehidupan cinta. Gw selalu tunggu-tunggu stand up comedy nya, klo bisa cari insight dari peristiwa kehidupan lainnya dong, selain cewe, pacaran, hantu, personal keluarga, dan buku. Gw selalu suka dengan stand up comedy dirimu dan kayaknya bisa lebih oke kalau materi jokes nya lebih variatif. Sukses selalu ya buat semua buku-buku, penerbitan, dan acara-acara nya~ ^^


*menggelinding merenung~*

Thursday, October 13, 2011

Wahai Jupiter, dengarlah curhatku~



Malam ini bulan masih terlihat bundar meski tidak seterang beberapa hari sebelumnya. Di samping kanannya ada 1 bintang yang terlihat cukup jelas meskipun langit sedang berawan. Setelah search2 google sedikit, konon benda langit yang ngga biasa keliatan itu adalah planet Jupiter yang emang lagi mejeng di sekitar Oktober ini. ^^

Pemandangan ini lumayan bikin gw seneng di masa-masa suntuk yang belakangan mendera. Sudah setengah tahun lebih sedikit gw berkantor dan mulailah masuk ke masa-masa menyebalkan yang bikin gw susah konsen. Bukannya gw ngga suka kantor gw. Gw seneng banget bisa jadi bagian kantor gw yang sekarang dan menikmati setiap saat gw berada disana. Bisa dibilang yang bikin gw jenuh adalah rutinitas kegiatan yang ada. Pagi bangun, mandi, berangkat ke kantor, sore pulang, makan, mandi, berhadapan dengan deadline2 dari yang lain-lain, lalu tidur. Repeating all over and over again. 

Sabtu dan Minggu kalau lagi lowong sih enak buat refreshing dengan tidur-tiduran, malas-malasan, dan spending times with family. Tapi karena belakangan lagi lumayan ketimbun macem-macem, Sabtu dan minggu gw akhirnya selalu antara ketemu klien, beresin kamar, dan kerja ngejar deadline yang biasanya ngga keburu dikerjain ketika weekdays.

Though gw bersyukur gw bisa kerja terus, efek jelek dari berkurang kegiatan malas2an gw adalah rasa suntuk yang makin lama juga ikutan menumpuk dan ngeganggu ritme keteraturan kerja gw (alias gw jadi makin dan makin malas), dan menipisnya akal sehat buat berhemat dan gw jadi ngidem makan yang macem-macem ato kegiatan lainnya demi meredam hasrat senang-senang. Komplikasi lanjutannya, gw makin boros, makin bokek, dan makin gendut. =_=; 

Gw butuh banget liburan... entah kemana deh... Sayangnya belom bisa karena tentu prioritas gw adalah kelarin semua-semua kerjaan berdeadline ini. Malam ini saja gw memilih untuk creambath di salon dulu dan makan bubur kacang ijo sambil baca komik rentalan, padahal gw dah menjadwalkan malam ini untuk kerja. >,> 

Besok sabtu gw kembali harus ketemu klien, kemungkinan mesti ke dokter hewan karena kata ade gw si Shiro kembali kena sakit kulit, dan juga kemungkinan mengunjungi pameran franchise dimana klien gw akan berpartisipasi. Rencananya kalau masih ada waktu gw mao pijet refleksi ato ngespa biar bisa puas relax dan hari-hari selanjutnya kembali bekerja dengan fokus dan konsentrasi. 

*kembali menggelinding melihat-lihat Jupiter*
~


Saturday, July 9, 2011

Between sanity and insanity...

Di kala kerjaan numpuk...
Dan budget sudah sekarat padahal tengah bulan aja belom...
Laptop rusak ngga mao nyala...
Dibawa ke tukang servis benerinnya mahal...
Untungnya masih ada backup di D...
Tapi semua data di drive C ilang...
Downloadan komik-komik baru yang belom dibaca...
Downloadan lagu-lagu...
Data kerjaan dan project2 pribadi...
...
.....
.......
GGRRRAAAAAAAOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!!!!


Sunday, June 12, 2011

#IndonesiaJujur : Surat untuk Ibunda Siami

Kepada Yth.
Ibunda Siami,


Dengan hormat,


Saya hanyalah salah seorang biasa yang memperhatikan dan mengikuti berita-berita mengenai apa yang terjadi pada Anda belakangan ini. Saya sangat berterima kasih ada Surya Online yang sudah memberitakan dan membuat masyarakat negri ini tahu apa yang tengah terjadi. Saya harap entah bagaimana caranya surat ini bisa sampai untuk Anda baca. Sebenarnya saya sangat ingin mengirimkan surat ini langsung namun apa daya saya tidak tahu alamat rumah maupun email Anda.


Apa yang sudah Anda alami tentunya sangat menyakitkan hati dan saya pun mengecam ketidak adilan yang sudah terjadi. Namun di sisi lain rusaknya sistem pendidikan (atau mungkin keseluruhan sistem) di Indonesia ini jugalah yang menyebabkan banyak hati manusia menjadi sakit. Saya sama sekali tidak membenarkan mereka yang menzalimi Anda (dan kalau boleh jujur ingin sekali saya bisa berada disana langsung untuk mendukung Anda), namun bila bisa membuat merasa lebih baik, anggaplah mereka sedang sangat ketakutan sehingga menjadikan Anda sebagai target demi rasa aman yang semu sehingga nurani mereka menjadi buta dan tidak mengerti akan apa yang sudah mereka lakukan.


Sedikit berbagi rasa juga, sewaktu saya masih SMP dulu saya pun pernah mengalami tekanan dari teman-teman sekolah saya ketika berprinsip tidak ingin mencontek. Saya tahu apa yang saya alami tidak ada apa-apanya dengan Anda dan anak Anda, tapi saya sedikit banyak mengerti bagaimana traumatisnya karena masa-masa itu pun sempat membuat saya depresi.  Namun jangan berkecil hati, karena saya yakin tidak semua sekolah seperti itu. 


Ketika SMA akhirnya saya menemukan lingkungan yang bisa saling menghargai satu sama lain. Meski yah, masih ada kegiatan contek-mencontek, namun tak ada tekanan atau bullying lagi bagi saya. Bahkan masih banyak teman-teman saya yang justru mendorong untuk tetap berbuat jujur, dan selalu mendukung sehingga saya bisa menjadi diri saya sendiri. Saya turut mendoakan selanjutnya Anda bisa menemukan sekolah yang baik dan tepat untuk mendidik anak-anak Anda seperti saya dulu akhirnya bisa menemukan tempat yang baik bagi saya.


Entah apakah Anda tahu, tapi banyak sekali orang yang begitu  tersentuh oleh tindakan anda Anda, serta menangis dan ingin memberikan dukungan moral bagi Anda. Karena itu janganlah semua ini membuat Anda dan keluarga berpikir tidak ada lagi kebaikan dan kejujuran di bumi ini. Jangan sampai Anda dan keluarga kalah oleh kecurangan dan ketidakjujuran. 


Kemudian janganlah Anda berlarut bersedih apalagi menyesali apa yang terjadi. Apa yang Anda lakukan merupakan keberanian dan kejujuran yang sudah sangat berharga di negri ini. Tetaplah tanamkan nilai-nilai kejujuran bagi keluarga Anda. Saya percaya Tuhan pasti melindungi Anda dan keluarga.


Semoga semua ini dapat membuat Anda dan keluarga bangkit dan bisa terus menjadi lebih baik dan tetap mengikuti hati nurani. Untuk AL juga, gapailah cita-citamu setinggi langit. Kelak jadilah manusia benar yang dapat berbuat besar untuk menolong negri ini keluar dari kebobrokannya. Semoga semua ini juga dapat menjadi momentum yang menyadarkan dan membuka mata bangsa ini, supaya kita semua menyadari apa yang sedang terjadi dan terus memperbaiki diri.


Sekian dulu surat dari saya. Mohon maaf bila ada hal-hal yang kurang berkenan. Semoga surat saya dan juga surat-surat dukungan lainnya dapat memberikan dorongan dan semangat yang berarti untuk Anda sekeluarga.
Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih banyak.


Hormat saya,
Andhika Wijaya (Ika)


Source berita : http://www.surya.co.id/2011/06/10/ny-siami-si-jujur-yang-malah-ajur
Bagi teman-teman lain yang juga ingin ikut mendukung, silahkan klik Gerakan Moral #IndonesiaJujur

Wednesday, November 24, 2010

Bokek Kronis...

...
...
Okay fine! Gw stress! Stress!!! STRESSSS!!! +_____+;;;

Tanpa terasa 4 bulan sudah gw ngekos dan belajar hidup sendiri. Pemasukan gw masih belum membaik dan efek senewennya makin berasa sekarang. Waktu awal ngekos gw masih makan 12-15rebu sekali makan setiap hari dan sekarang nasi bungkus seharga 8000 keatas aja sudah terlihat mahal... T___T Mo beli pulsa rasanya udah berat banget... Mo ke salon sudah ngga sanggup... Mo ke mall apalagi... Mesti nabung dari jauh2 hari dulu...

Gw pun jadi susah ketemuan sama teman sementara gw missed them a lot. Gw pengen makan sushi bareng ato karaoke bareng, tp yah... SADAR OY!!! LAgi miskin maonya malah banyak!!! >,> Meski gw tau mungkin mereka oke aja klo misalnya gw ajak ke museum ato hiburan laen yang lebih murah, tp untuk 2 bulan ini buat makan aja gw masih susah. Argh... so lonely... T___T

Dan kondisi seperti ini juga gampang bikin gw jadi picik. >,> Gw rasanya benci diri gw sendiri setiap whinning kesusahan yang gw alami. Apalagi klo ngeliat teman2 gw makin melangkah maju sementara gw dah kayak stuck disini. Gw marah ama diri sendiri yang selalu plin plan dalam planning in masa depan gw. Belom lagi umur dah makin tua dan gw tau ke depan gw nga bisa hidup dari gini terus dan mesti cari usaha ato penghasilan yang lebih pasti sementara gw masih bingung mao ngapain. And don't tell me to marry off some rich guy because I really really hate the idea! ++;

Gw besar dalam kondisi ekonomi yang cukup baik meskipun ngga wah. Beberapa tahun belakangan keluarga gw ngalamin masalah ekonomi yang mayan pelik tp pemasukan gw 2-3 tahun kemarin masih lancar (makasih Tuhan T___T). Jadi dari gw kecil sampai besar gw hidup dengan cara itu, ngeluarin uang dengan cara itu, dan bergaul dengan teman2 yang hampir semuanya seperti itu juga.

Ketika tahun ini ternyata gw dikasih kenyataan klo gw harus jatuh tersungkur dengan pemasukan yang amat minim bikin gw mesti belajar dengan cara hidup yang lain, dan proses adaptasinya ternyata lumayan berat buat dijalanin. Gw jadi malu ama diri sendiri betapa foya2nya gw dulu dan bikin stress ketika apa yang buat gw dulu biasa aja dan nga terlalu mahal jadi terlihat begitu mahal. Apalagi sekarang gw dah nga bisa ngebantu apa2 buat keluarga gw... bikin gw berasa kalau diri ini keciiillllll banget... -_-;

(Yah, yang namanya pelajaran itu klo nga mahal ya pait...)

Buat sebagian orang mungkin kesannya gw pengeluh dan manja. I guess that may be true. Gw masih belom bisa ngadepin semua ini dengan baik. --; Setiap gw pengen jadi lebih kuat entah kenapa gw selalu disadarkan dengan betapa gw lemah dan nga bisa apa-apa.

Mungkin bakal ada yang nanya juga kenapa gw ngga cari kerja tetap ato ngantor aja. Aside masalah ijasah gw rusak dan gw mesti keluar 200rebu lebih untuk perbaikannya, ada perasaan aneh dimana gw ngga suka terikat. I love being a free... Gw tau gw masih cinta dengan kehidupan gw meski dengan segala kenyataan yang menyebalkan ini. Sekarang gw punya kebebasan untuk ngatur hidup gw sendiri dan kebebasan ini rasanya worth gw gapai dengan semua kesusahan yang gw hadapin. Tp yah gw tetep ngga bisa mengabaikan rasa stress bertumpuk yang sedang gw alamin saat ini. Basicly ini masalah pendapatan gw lagi nga bagus belakangan ini, tp jadi nyangkut kemana2 juga. -_-;

Makanya sekarang gw ngerant disini... Klo curhat ke orang lain gw takut jadi manusia yang menyebalkan. ^^; (lagian ini blog sepi pembaca xDDD) Tp gw juga bukan tipe yang bisa nyimpen semuanya ato ngebohongin diri sendiri, malah efeknya lebih jelek buat gw klo gw ngga mengakui stress ketika gw sedang stress. Semoga meski dengan segala keluhan dan rasa galau ini gw akhirnya bisa ngatasin semua nya dengan baik... Anggap saja gw sedang meditasi dan kena banyak cobaan dulu deh. Graaahh... -___-

Om nom nom nom...
*gelindingan*



Friday, August 20, 2010

Sooo... What's New?

Perubahan, perubahan, perubahan, kayaknya tahun ini bener2 banyak perubahan. Dari yang lumayan ada pemasukan sampe bokek kek kek... Dari yang biasa ribet dikasih kerjaan melulu ampe luntang lantung ngga ada kerjaan... Dari yang biasanya bisa ngasih hasil kerja yg optimal sampe diomelin klien dan dicancel kerjaan...

Yep, kebanyakan berubahnya ke minus... ++;;;

Di tengah semua perubahan ini somehow gw mengambil langkah yang cukup ekstrim (karena gw lakukan justru pas lagi bokek...), yaitu cabut dari rumah dan belajar hidup sendiri. Semua ketakutan2 gw dengan segala masalah berakumulasi dan menambah ketakutan2 yang laen sampe gw sendiri lupa apa aja yang gw takutin, tp semua itu berhasil melenyapkan keraguan gw selama 5 bulan terakhir sampe gw bisa relain berpisah dengan kelinci2 gw, dan hasilnya akhir Juli gw langsung sewa tempat kos, siapin kebutuhan buat survive, dan Agustus gw pun nge kos di deket Binus.

Tujuan utamanya sih belajar supaya bisa hidup sendiri, belajar manage waktu dan pengeluaran, serta sedikit bertapa dan menjauhkan diri dari TV kabel, game, komik, dan sebagian besar hiburan yang laen. Klo emang ampe gw bener2 jobless jadi bisa konsen ngerjain project2 pribadi. Although sayangnya pas dah mulai konsen nerusin project2 pribadi malah ada aja hal2 yang selau bikin ini semua ketunda.

Sekarang sudah tinggal 11 hari lagi menuju akhir Agustus dan gw masih belom ada pemasukan... T___T Ada project yang nunggu duid turunnya mesti perjuangan dengan keringat, darah, dan air mata, ada langganan yg belakangan jarang kasih kerjaan sehingga nga ada yang bisa ditagih, ada project baru yang deal aja masih nunggu (padahal gw kira bisa survive klo dapet dp nya...), dan project joinan ama temen yang juga masih nunggu duid turun. Untuk menuhin kebutuhan, gw utang pake duid project dan ngga kerasa utang gw jadi lumayan banyak... ++;;; Klo duid dah pada turun sih bisa kebayar semua utangnya, tp masalahnya masih ngga tau dan ngga jelas kapan gw bisa dibayar...

Buat yang berasa, maap ya saya pake duid project dulu. T___T

Yah, demikianlah kabar gw sejauh ini. Entah akan ada perubahan apa lagi yang menanti, tp semoga semua ini bisa membawa gw ke arah yang lebih baik.
*glinding*

Monday, February 1, 2010

Lying is not my expertise...

Gw nga suka berbohong karena gw nga suka dibohongin.
Gw nga suka berbohong karena gw ingin dipercaya oleh orang lain.
Gw nga suka berbohong karena gw ingin apa yang gw ucapkan bukanlah sesuatu yang tanpa makna.
Terserah kalau orang lain bilang gw salah, atau bodoh, atau terlalu jujur.

Gw nga akan munafik untuk bilang gw nga pernah bohong.
Tapi gw nga akan menikmati setiap kebohongan gw.

Friday, December 4, 2009

Desember...

Aku... selalu suka
Sehabis... hujan di bulan Desember~
Bulan Desember~

Ini lagu favorit gw setiap bulan Desember, apalagi kalau bertepatan dengan musim hujan. Rasanya cocok banget dengerin Efek Rumah Kaca sambil merenung di dekat jendela, menikmati rintik hujan dan sejuknya hembusan angin. Meski buat yang kebanjiran atau kebasahan di jalanan mungkin kurang setuju atau malah memaki lagu ini.

Yup, penghujung akhir tahun ini pun sudah tiba. Tinggal 1 bulan terakhir di bulan 2009. Sudah lama juga berarti gw dah ngga update2 blog lagi. Tapi yah, toh tinggal nulis lagi aja biar lanjut. ^^ Hari ini ketika bangun tidur gw dikejutkan dengan kram pada kaki kiri gw. Sakit bukan main dan gw langsung mengumpat-umpat. Tapi karena masih ngantuk, baru jam 4 pagi gitu, gw pun kembali tertidur selama sekitar ½ jam sampai kemudian gw bangun lagi dan kembali dikejutkan dengan kram yang kali ini pada kaki kanan gw. Wow, kram 2 kaki secara berurutan, pertanda apa pula ini?

Teriakan gw sepertinya cukup keras sampai didengar Nyokap. Berkat beliau untungnya masalah kram kaki ini dapat segera teratasi dengan baik. Gw pun kembali beraktifitas dengan online facebook dan memainkan game-gamenya, lalu kembali bekerja. Hari ini sebenernya gw ngga berniat kerja terlalu keras. Kerjaan besar gw bisa dibilang selesai, tinggal menunggu bagian temen gw yang lain barulah gw bisa melanjutkan.

Bulan ini mang sepertinya ingin gw jalani dengan lebih santai. 2-3 tahun sebelumnya Desember gw selalu penuh dateline. Tahun ini pun sebenernya ada dateline, tp pengen gw atur biar masih ada waktu buat hal-hal lain lah.

Niatan gw hari ini adalah pergi ke kantor pajak untuk menjadi warga negara yang baik, lalu ke Permata Hijau untuk pijat refleksi bersama adik tercintah, lalu ketemuan dengan para patner kerja tersayang.

Setelah beberapa pekerjaan selesai, gw dan ade gw pun pergi ke kantor pajak. Sampai disana ternyata gw diberitahukan kalau NPWP gw pembayarannya tidak bisa diurus di Pondok Pinang, melainkan harus di Bumi Serpong Damai. Kabar tersebut cukup membuat gw syok karena... BSD itu JAUHHH!!! Dan gw sama sekali ngga tau dimana tempatnya. Berarti batal lah niat gw hari ini untuk menjadi warga negara yang baik dan gw harus menyiapkan hari lain untuk pergi ke BSD.

Kami berdua kemudian melanjutkan perjalanan ke ITC Permata Hijau. Disana gw akhirnya mengganti batu batere jam tangan lalu menggunakan jasa pijat refleksi sambil menunggu teman-teman Panda yang lainnya datang. Hari ini kami ke ITC karena hendak membeli kado buat bayi Mas Wawan yang baru lahir sambil ketemuan transfer-transfer data dan ngobrol. Ngobrolin apa aja, soal politik dan ekonomi dunia (duileh...), soal kerjaan, masa depan, etc etc...

Teman-teman Panda... (dan terutama elo Ndra), satu hal yang gw sadari, sejak Desember ini obrolan kita kayaknya makin berat aja. Obrolan hari ini lumayan jadi wake up call buat gw. Ada banyak banyaak banyaaaaakk hal yang harus segera gw pikirkan. Mumpung masih 1 bulan. Mumpung gw masih punya waktu untuk merenung dan brainstorming.

Entry ke depan mungkin bakal banyak renungan dan renungan nih. Huhuu...

Setelah berpisah dengan mereka, gw dan ade gw pun pulang melewati Radio Dalam dan hendak menuju ke Sushi Tengoku. Niatan gw, kalo buka gw makan, klo tutup ya sudah. Setelah hari ini gw ngga akan makan sushi dulu sampai tahun berganti. Sampai disana pun ternyata Sushi Tengoku sudah buka dan kami menjadi pengunjung pertama. Pas sekali ade gw selesai memarkir motornya tiba-tiba hujan turun dengan derasnya disertai dengan angin kencang dan petir menyambar-nyambar. Wow, untung dah nyampe... oo;

Kenapa gw lagi ngidem di Sushi Tengoku? Udah mesti lewat Radio Dalam yang macet, mahal pula xDD. Tapi ini restoran kenangan, tempat pertama kali gw dan keluarga gw mencoba yang namanya sushi, tempat dimana gw jadi tergila2 sama sushi, meski waktu itu yang bisa gw makan Cuma ebi sushi doang. xDD Dan sejak resto2 sushi bermunculan sebagai trend disana sini, gw dah nga pernah makan disitu lagi dan jadi kangen berat. Wajah chefnya masih familiar, sepertinya masih belom ganti dari dulu sampe sekarang.

Gw memesan beberapa jenis sushi, ada ebi, salmon, tuna, dan unagi. Sementara Ade gw memesan chicken katsu curry rice. Nasi kare itu bikin gw tertarik untuk mencoba makanan-makanan selaen sushi di tempat ini. Pertama kalinya gw nyobain nasi kare Jepang dan rasanya amat sangat nikmattt... Selama ini gw menghindarinya karena gw kira pedas. Sekarang jadi nyesel gw ngga pernah nyobain menu ini sebelum-sebelumnya. Kapan-kapan mungkin gw mao ajak Bokap dan Nyokap juga kesini lagi.

Selesai makan hujan pun sudah jauh lebih reda, gw dan ade gw pun segera pulang dan sampai di rumah dengan selamat. Sekarang gw mo mandi dulu dan bersih-bersih. Abis itu mo ngatur jadwal, lanjut kerja, dan nge planning in apa aja yang mesti gw renungin selama bulan Desember. Semoga sebelum tahun berganti gw bisa dapat jawabannya. Minimal gw harus tau apa yang ingin gw fokuskan di 2010.


Thursday, August 20, 2009

Sinetron oh sinetron~

Yes yes... I hate sinetron and I’m in the mood for ranting. Hidup bersama ortu yang doyan sinetron mo ngga mao gw jadi mengamati beberapa judul dan entah kenapa menemukan pola menarik pada sinetron masing-masing stasiun TV. Mungkin sebenernya lebih ke khas an rumah produksi sinetronnya, tapi karena gw ngga tau nama rumah produksinya jadi gw jabarkan berdasarkan stasiun tv nya aja.


1. SCTV

SCTV mungkin stasiun TV favorit para pecinta sinetron. Cerita mereka biasanya linear antara good vs evil, trus karakter yang dari good mendadak jadi evil ato sebaliknya (suka2 sutradara ama penulis naskah deh). Plot juga biasanya dah ngalor ngidul nga jelas dari awal dengan banyak konflik masalah dan adegan yang buat gw sebenernya ngga penting-penting amat. Pokoknya yang jahat selalu jahatin yang bae, dan yang bae selalu ngelawan yang jahat, entah apapun masalahnya (biasanya sih campuran antara cinta dan harta) dan sebodoh apapun cara mereka saling ngelawan satu sama lain.
Tapi mungkin justru karena itu sinetron SCTV banyak disukai. Cerita tergolong ringan (secara bobot cerita loh, bukan secara mood) dan ngga usah mikir banyak buat ngertiin ceritanya. Kemudian sinetron SCTV lebih punya unsur fun karena punya tokoh khusus yang berperan jadi dagelannya, ato dikasih adegan konyol yang buat gw sih ngga lucu tapi cukup buat bikin mood ceritanya lebih ceria dan ngga suram-suram amat. Di samping itu, protagonis sinetron SCTV cenderung aktif dan ngelawan, itu lumayan nambah unsur fun nya. Yah tapi buat gw baik protagonis maupun antagonisnya sama-sama bego sih, thanks to the script...


2. RCTI

Sinetron RCTI sebenernya punya basic plot yang bagus (sampe gw mikir apa ceritanya niru drama luar negri...?), tapi toh biasanya belakangan dipanjang-panjangin dan kisahnya pun jadi ngalor ngidul juga. Penggarapan karakterisasi, kualitas akting, serta lagu bgnya juga lebih bagus daripada sinetron SCTV. Antagonis sinetron RCTI buat gw lebih believeable dibanding sinetron SCTV. Tetep jahat banget dan nyebelin, tapi gw masih percaya orang-orang seperti itu ada di dunia nyata.
Hanya saja yang gw amat sangat ngga tahan adalah eksekusinya. Berlebihan dan sok dramatis. Terlalu banyak isak tangis air mata dan misfortune berturut-turut yang bikin kesel. Protagonis sinetron RCTI adalah tipe protagonis penuh penderitaan namun tetap baik hati dan tabah bagai malaikat dalam wujud manusia. Belom lagi efek-efek yang dipake terlalu berlebihan dan mereka pasang soundtrack cukup kenceng, hampir setara dengan volume dialognya. Ok ok, gw tau efek suara loe lebih bagus, tapi ngga usah dipasang terus menerus di setiap adegan dengan volume sekenceng itu! X_x;;;
Selaen itu kesan yang didapet dr sinetron RCTI lebih berat dan gloomy. Klo di SCTV gw benci dengan plot aneh penuh lubang ngalor ngidul ngga jelas, di RCTI gw lebih benci dengan eksekusinya yang drama berlebihan serta penataan efeknya.


3. Indosiar

Err... Well... kelebihannya... original mungkin. Dimana lagi ada sinetron yang alkisah kerajaan antah berantah dimana raja ato ratunya tinggal di rumah mewah dengan kendaraan mercy terbang dan punya peliharaan naga 3D. ^^;;; Saking anehnya Indosiar bukan pilihan nonton Bokap Nyokap gw, so gw bisa sedikit berlega hati karena 2 sebelumnya dah cukup menguras emosi...


4. TPI

Program TPI yang bener2 gw tonton cuma Masquarade sama Ninja Warrior... Tapi sekilas-sekilas klo ganti chanel ngeliat sinetron yang kualitasnya jauh lebih buruk daripada Indosiar... --;;; Although beberapa acara sinetron lebay banyak yang ditunjukkan buat anak2 (biasanya dgn ngebajak ide dr serial yang dah terkenal duluan) so mungkin anak2 masih doyan nontonnya.


Sekian aja deh rantingnya. Stasiun TV laennya antara ngga nayangin sinetron ato gw ngga notice aja klo mereka punya.

*glinding~*

Sunday, December 21, 2008

Twilight – Stephenie Meyer

Ketika pertama kali gw melihat novel Twilight di toko buku, gw cukup tertarik melihat covernya sampai kemudian gw baca sinopsis di belakangnya yang membuat gw ngeh kalo novel ini adalah kisah cinta antara vampir dan manusia biasa. Tema seperti itu rasanya dah lumayan standard dan sering ge temui di komik-komik, so gw taro kembali novel tersebut.

Sampai kemudian gw dengar di radio mengenai gimana bagusnya Twilight dan animo pembacanya yang besar sampai buku ini sempat menjadi nomor 1 best seller di Aksara sehingga gw akhirnya kalah sama iklan dan rasa penasaran. Maka gw beli ketiga buku tersebut di toko buku online karena kalau beli sepaket jatuhnya lebih murah. Gw juga baru tahu belakangan kalau Eclipse itu belum selesai dan masih ada buku ke-4nya. (Tetralogi? ^^;)

Ketiga buku itu kemudian berdiam sejenak dan tak gw baca-baca karena gw masih terpukau dengan Edensor. Tapi sampai saat itu ekspektasi gw novel ini masih lumayan berbobot paling ngga secara cerita since sepertinya Twilight benar-benar sedang booming. Kemudian sebelum gw baca novelnya gw nonton dulu Movienya bersama teman2 gw. Gw nyadar dengan make-up yang kelebihan bedak banget dr awal, namun ngga terlalu bother dengan semua itu (baru tau belakangan juga kalau ini film low-budget). Toh gw suka dengan pemandangan alam dan suasana kota tempat Bella pindah yang dingin-dingin adem.

Gw juga menyadari ada yang aneh dengan cerita maupun karakterisasinya yang rada cheesy, namun gw masih dimanjakan oleh suguhan karakter Edward (Pattison) yang menurut gw cakep banget dan romance yang bener-bener berasa terutama di adegan ketika mereka tidur-tiduran di rumput sambil saling memandang (yah meski bling-bling glitter di badan Edwardnya lumayan merusak suasana ^^;). In the end akhirnya gw menyadari kalau gw harus menurunkan ekspektasi gw ketika membaca novel dengan harapan paling ngga ini serial romantis cheesy biasa, tapi masih menghibur. Terutama karena temen gw ada yang sangat muak dengan filmnya tapi masih bisa toleransi novelnya.

Namun ternyata semua itu tetap ngga menolong kalau pada akhirnya gw ngga suka dengan novel ini, dengan segala macem deskripsi ngga perlu yang ngga penting-penting amat dalam cerita, dengan pemasukan mitos vampir dan werewolf yang mungkin kreatif karena beda dengan mitos vampir umum namun kurang digali dengan baik, dengan karakterisasi Bella dan Edward yang ketidakberesannya jauh lebih berasa di novel ini (since jauh lebih banyak monolognya Bella, apalagi pengambilannya dari sudut pandang orang pertama, sementara di movie detil2 itu dipotong banyak sehingga Bella berasa lebih normal), dengan diulang-ulangnya pujian2 Edward yang begitu luar biasa amat sangat tampan bagai Dewa Yunani dan membuat Bella kleper-kleper sementara Bella sendiri selalu pesimistis akan penampilannya (dan ngga nyadar kalau dia Madonna sekolah barunya itu) namun banyak yang kontradiktif dari sikap-sikapnya. Belum lagi dengan keplinplanan Edward dan sikap overprotektif ditambah dengan potensinya sebagai stalker. --;

Awal-awal buku masih berasa manis diikuti, namun semakin lama semakin membosankan seiring dengan semakin banyaknya dialog tanya jawab antara Bella dan Edward. Cerita sedikit terselamatkan dengan munculnya 3 vampir asing yang menambah konflik sehingga Bella dikejar-kejar mereka untuk dijadikan mangsa (meski berbeda dengan movie dimana mereka bertiga dah dikasih lihat dari awal-awal, di novel mereka baru muncul dari 1/3 bagian terakhir). 3 vampir itu menambah suspense dalam kisah ini, meski suspensenya cuma sebagai bumbu seadanya supaya ceritanya jadi ngga boring. Endingnya pun cukup standard, mungkin untuk menjadi basis buku selanjutnya.

Yang masih lumayan di novelnya adalah keberadaan karakter-karakter lain yang lebih punya arti (teman-teman Bella, anggota keluarga Cullen yang lain, terutama Alice) sementara di movie teman-teman Bella hanya ada untuk menunjukan interaksi Bella sebagai remaja SMA, dan keluarga Cullen ada karena di novel mereka ada. Padahal masing-masing dari mereka juga punya keunikan, terutama Alice yang masa lalunya beberapa kali disinggung di novel tapi jadi ngga penting di movienya. Begitu pula karakter Jacob, kalau lihat sinopsis novel selanjutnya seharusnya ia adalah karakter penting yang menjadi rival Edward. Tapi kalau lihat di movienya jelas-jelas Jacob kalah dari Edward secara fisik maupun mental.

Tapi gw sendiri ngga bisa menampik kenyataan kepopuleran novel dan movie Twilight yang luar biasa sampe ada yang rela nonton 3-5x. So kesimpulan gw, Twilight mungkin cocok buat mereka yang memang mencari bacaan ringan dengan sedikit guilty pleasure mengenai romantisme vampir-manusia. Tapi buat yang cari bacaan berbobot, Twilight bukan bacaan yang direkomendasikan.

Menurut temen gw yang dah baca, buku ke-2 dan ke-3nya lebih parah dari buku pertama, bikin gw sedih since gw dah beli sampe buku ke-3. --;;;